Kampus STIKOM Bali, Jl. Raya Puputan Denpasar

Pertanyaan di atas sempat ditanyakan oleh pewawancara kepada saya usai mengikuti tes tulis di STIKOM Bali Denpasar. Tak hanya pewawancara tersebut, sebelumnya petugas resepsionis di kampus tersebut juga menanyakan hal yang sama ketika saya menanyakan pendaftaran mahasiswa baru. “Mengapa harus kuliah S1 lagi? Mengapa tidak lanjut master saja?”

Ditanya seperti itu saya hanya menjawab singkat, “Ingin belajar IT!” Nampaknya pewawancara tersebut tidak puas dengan jawaban saya. “Kenapa tidak belajar otodidak saja? Kalau sudah bekerja bagaimana membagi waktunya?” tanyanya kembali. “Hmm…Bu, terus terang untuk belajar otodidak saya orangnya kurang disiplin, butuh tutor sebagai tempat bertanya. Untuk melanjutkan ke master, sungguh saya ingin sekali. Namun saya terhalang oleh aturan kedinasan yang mensyaratkan pangkat dan golongan tertentu  untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi,” jawab saya. “Untuk membagi waktu, saya rasa tidak akan menemui kesulitan karena beban kerja di Denpasar tak sepadat di Jakarta. Apalagi letak kampusnya hanya sepelemparan batu dari kantor,” saya melanjutkan.

Selain alasan di atas sebenarnya ada beberapa hal lagi yang menjadi pertimbangan saya untuk kembali ke bangku kuliah. Pertama, adalah cita-cita sejak SMA dahulu untuk kuliah S1 sesuai dengan jurusan saya, IPA. Tiga belas tahun yang lalu, karena alasan ekonomi, saya melanjutkan kuliah program D1 STAN spesialisasi Kebendaharaan Negara. Lulus dari STAN diangkat menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN) dan mengabdi di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara. Setelah dimutasi ke Jakarta saya berkesempatan untuk melanjutkan kuliah S1, program manajemen menjadi pilihan kala itu. Alasannya adalah biaya yang terjangkau, mata kuliah yang tidak memforsir kerja otak, ditambah lagi lokasinya tidak terlalu jauh dengan kantor. Rekan kerja sayapun juga banyak yang terdaftar sebagai mahasiswa di sana.

Alasan yang kedua adalah rasa bersalah saya terhadap gelar akademis yang saya peroleh terdahulu. Sudah menjadi rahasia umum jika seorang ASN atau karyawan untuk kuliah alasan utamanya adalah untuk mendapatkan promosi atau kenaikan pangkat. Walaupun ada juga yang berprinsip menuntut ilmu sebagai investasi di masa depan dan ilmu yang bermanfaat akan menjadi amal jariyah yang tiada pernah terputus. Tapi saya rasa jumlahnya masih kalah dari golongan yang pertama. Dan boleh dibilang waktu itu saya berada di golongan mayoritas tersebut. Semangat kuliah saya waktu itu hanya sekedar untuk memperoleh gelar! Ditambah lagi beban kerja di Ibu Kota yang sangat tinggi dan jalanan yang macet menambah alasan untuk datang ke kampus sebagai formalitas. Pihak kampus waktu itu memberikan kebebasan kepada mahasiswanya yang sudah bekerja untuk menyusun KRS sendiri tanpa perlu konsultasi kepada dosen wali. Akhirnya kami bisa mengambil mata kuliah suka-suka meskipun jadwalnya bentrok satu sama lain. Ringkasnya, sedikit sekali ilmu yang bisa saya serap selama kuliah di Jakarta dikalahkan oleh rasa kantuk, tugas-tugas di kantor, macet dan asap kendaraan.

Alasan ketiga, karena saya punya keinginan untuk dapat membuat aplikasi yang luput dari perhatian kantor pusat tapi justru sangat bermanfaat atau dibutuhkan. Misalnya melacak sampai di mana dan sejauh mana surat masuk sudah diproses. Siapa yang memroses? Dan jika butuh jawaban, surat jawabannya sudah ada atau belum. Satker di kantor saya sering sekali menanyakan tentang Surat Keterangan Penghentian Pembayaran (SKPP) kapan selesai dan bisa diambil, jika ada aplikasi yang dapat melacak hal-hal tersebut di atas tentu akan memudahkan kami dan juga mereka.

Alasan yang keempat, karena saya punya mimpi untuk mendapat beasiswa ke luar negeri. Ketika membaca syarat-syarat untuk melamar beasiswa di berbagai lembaga pemberi beasiswa, selalu saja ada persyaratan untuk melampirkan surat rekomendasi dari dosen atau pembimbing akademis di kampus terdahulu. Karena saya kuliahnya yang asal-asalan dan tidak memiliki prestasi akademis yang menonjol saya merasa malu untuk meminta surat rekomendasi tersebut.

Alasan yang kelima, ketika nanti saya memutuskan untuk keluar dari zona nyaman saya, saya sudah punya cukup kemampuan dan bekal untuk dapat bertahan mengarungi ganasnya rimba kehidupan di luar sana.

Itulah beberapa alasan yang melatar belakangi kenapa kemudian saya memutuskan untuk kuliah kembali. Semoga pada kesempatan kali ini saya bisa memanfaatkan waktu untuk belajar sebanyak-banyaknya. Apalagi sekarang saya sudah punya tambahan semangat dan doa dari istri dan anak tercinta. Biidznillah, semoga semuanya berjalan lancar dan baik. Aamiin…