Tags

, , , , ,


Air Mancur Catur Muka. Gambar diambil dari http://www.phribali.or.id

Air Mancur Catur Muka. Gambar diambil dari http://www.phribali.or.id

Setelah satu bulan tinggal di Denpasar, tiba-tiba hati ini merasakan kerinduan yang sangat dengan blog ini. Tanpa sadar sudah hampir setahun lamanya ia terbengkalai. Meninggalkan begitu banyak cerita lama yang hampir mati karena bosan. Ada rasa sesal yang mengapung karena telah membiarkan begitu saja semua ide, pengalaman, dan hal-hal baru yang seharusnya menjelma menjadi tulisan, terbang bersama hembusan angin. Mulai saat ini saya akan memotivasi diri ini untuk setidaknya menghadirkan satu tulisan setiap pekannya.

Medio Agustus 2014, saya mendapatkan SK Mutasi ke KPPN Denpasar. Amboi, alangkah senangnya hati ini karena Denpasar menjadi salah satu kota preferensi saya setelah Jogja. Hal ihwal saya memilih kedua kota tersebut karena keinginan hati untuk belajar dan memenuhi hasrat traveling. Jogja dan Denpasar gudangnya anak-anak muda yang kreatif dan inovatif. Sekolah tinggi, universitas dan tempat kursus bertebaran di seluruh penjuru. Banyak industri kreatif tumbuh dan berkembang di sana. Kedua kota tersebut juga dikelilingi begitu banyak obyek wisata yang sudah mendunia. Dan satu yang pasti, kualitas hidup di Jogja atau Denpasar masih lebih baik dibanding Jakarta. Saya jadi punya banyak waktu untuk mempelajari hal-hal baru tanpa harus dipusingkan dengan pekerjaan yang menumpuk ataupun terjebak macet di jalanan.

Jalak Bali (Leucopsar rothschildi), gambar diambil dari Google

Jalak Bali (Leucopsar rothschildi), gambar diambil dari Google

Setiap hari saya bisa mendengar kicau burung yang riuh rendah menyapa mentari. Sepanjang jalan banyak saya jumpai rumah ataupun fasilitas umum yang kental dengan ornamen-ornamen khas Bali. Memberikan kesan sakral dan juga sedikit mistis. Masyarakat Bali yang mayoritas beragama Hindu sangat kuat dalam menjaga Tatwa (filsafat), Susila (etika) dan Upacara (ritual). Saya melihat kehidupan antar umat beragama di Bali khususnya Denpasar terjalin dengan baik. Kami yang muslim dapat dengan bebas sholat Idul Adha di lapangan meskipun bertepatan dengan Hari Raya Saraswati bagi umat Hindu. Makanan halal juga tidak susah untuk dicari. Kalau di Jakarta kita kenal dengan warteg, di Bali ada warung Jawa atau warung Muslim. Kerukunan antar umat beragama di Bali hingga saat ini masih terpelihara dengan baik.

Bali, akan menjadi lembaran baru dalam perjalanan hidup kami. Kami berdoa agar setiap langkah yang kami tapaki memperoleh ridha-Nya. Menghadirkan kebaikan demi kebaikan dan juga cerita-cerita penuh hikmah untuk anak cucu kami. Semoga!

Renon, 08 Oktober 2014