Tags

, , , , , , , , , , ,


Feature di bawah ini diikut sertakan dalam seleksi Workshop Jurnalistik dan Media Center Ditjen Perbendaharaan Kementerian Keuangan.

Kabut sudah mulai turun ketika sepeda motor kami memasuki gerbang desa Lawang. Motor terus melaju menyibak kabut yang menutupi jalanan. Lahan tebu yang menghampar luas di kiri dan kanan jalan cukup menyejukkan mata. Beberapa kali kami melewati gubuk-gubuk bambu tempat pengolahan gula merah secara tradisional, kilang gula merah, begitu masyarakat menyebutnya. Puncak Lawang adalah tujuan kami sore itu. Dengan ketinggian ± 1.210 mdpl Puncak Lawang menjadi tempat yang ideal untuk olah raga paralayang. Tak hanya itu, Puncak Lawang juga menjadi tempat yang sempurna untuk menikmati keindahan Danau Maninjau yang mempesona.

Arah jarum jam telah membentuk sudut 90º ke arah jam tiga sore begitu kami tiba di Puncak Lawang. Tak nampak aktifitas olahraga paralayang sore itu. Kabut juga sudah turun menghalangi pandangan ke arah Danau. Dari ketinggian Puncak Lawang, Danau Maninjau seolah-olah memanggil kami untuk segera turun, menginderai jernihnya lebih dekat lagi. Hanya 30 menit kami berada di Puncak Lawang kemudian perjalanan kami lanjutkan dengan menyusuri kelok 44 yang legendaris itu untuk sampai ke Desa Nagari Sungai Batang. Jalan yang berkelok-kelok, hamparan sawah yang menghijau, langit yang beranjak senja, dan semilir angin yang dingin menguatkan suasana mistis sore itu. Danau Maninjau yang menghampar di kejauhan seolah menghipnotis kami untuk terus melajukan motor semakin dekat.

“Jika adik memakan pinang, makanlah dengan sirih hijau, jika adik datang ke Minang, jangan lupa singgah ke Maninjau.” Begitulah bunyi sebait pantun yang dituliskan sang Proklamator Ir. Soekarno untuk mengagumi keindahan Danau Maninjau. Tak salah memang, Danau Maninjau dengan segala keindahannya masih tampak rendah hati dan bersahaja. Elok, sungguh elok, kearifan lokal masyarakat setempat masih sangat terpelihara. Surau-surau masih dipenuhi oleh suara anak-anak yang mengaji, senyum ramah penduduk Desa Nagari Sungai Batang begitu murah terlempar ketika kami berpapasan. Di Nagari ini pula, tepatnya di Tanah Sirah lahir dan besar seorang sastrawan besar Buya Hamka. Namun sayang karena waktu yang tak mengijinkan, kami tak sempat berkunjung ke kediaman beliau yang kini telah dijadikan museum.

Selepas sholat Ashar di masjid tua yang bertepian dengan Danau Maninjau kami sempatkan duduk sebentar, membenamkan kaki-kaki lelah kami ke dalam danau yang berair jernih dan dingin. Samar-samar kami melihat kelelawar-kelelawar hutan sudah keluar dari sarangnya, terbang bergerombol melintasi danau untuk menikmati waktu mereka yang sempat terpenjara oleh siang. Adzan Maghrib berkumandang bersahut-sahutan dari satu surau ke surau lainnya, menyadarkan kami yang tak rela untuk segera beranjak pergi.

Maninjau dengan pesonanya telah mengajarkan kami akan keMaha Besaran-Nya. Tak ada ruang dalam hati untuk bersikap sombong, karena Maninjau dengan indahnya tak pernah pongah kepada siapapun yang datang menjamahnya. Pun kepada ikan-ikan di keramba yang setiap hari mengotorinya. Maninjau dengan jernihnya masih setia menghidupi penduduk desa yang setiap hari bergantung kepadanya. Jika sudah demikian, “Maka nikmat Tuhan yang manalagi yang hendak engkau dustakan?”

Daftar Pustaka:
https://olahfikir.wordpress.com/2012/07/01/terpukau-oleh-alam-minangkabau/#more-141 [blog pribadi] di akses pada tanggal 30-05-2013
http://www.tempo.co/read/news/2013/04/23/204475165/Maninjau-Sang-Pemikat-Penerbang-Paralayang di akses pada tanggal 30-05-2013