Hup…laa….  Sobakhul Khair..selamat pagi semuanya. Hal yang paling menyenangkan bagi saya adalah ketika memulai pagi dengan kondisi yg benar-benar segar. Setelah itu sarapan dengan roti dan susu atau sekedar minum jus buah. Atau kalau memang sedang “lapar tombak” nasi atau bubur ayampun jadi.

Betawi menyuguhkan berbagai macam menu makanan baru buat saya. Mulai dari Soto Betawi sampai dengan Kerak Telor yang banyak dijajakan di acara Pekan Raya Jakarta. Untuk makan pagi di Jawa Timur lekat dengan nasi pecel dan sego rawonnya, di Irian ada nasi kuning, Batavia punya nasi uduk. Nasi uduk memiliki cita rasa  yang benar-benar khas. Gurihnya santan benar-benar meresap kedalam nasi, itu yang pertama kali saya rasakan ketika mencoba nasi uduk Mas Miskun di Jl. Kramat Raya. Lauknya juga bervariasi, tinggal disesuaikan dengan selera dan kondisi kantong kita.

Teman setia nasi uduk adalah segelas teh tawar, biasanya disediakan secara percuma. Sampai sekarang saya belum menemukan hal ikhwal yg melatari belakangi teh tawar ini. He..he.. hampir di setiap warung makan jika tidak memesan secara khusus ,yg disuguhkan adalah teh tawar. Waktu pertama datang di Jakarta, teman papua saya sempat protes kepada pelayan yg memberikan dia teh tanpa gula. “Kenapa tawar begini?” toh  lama kelamaan akhirnya dia mampu berkompromi juga. Dan sekarang malah jadi doyan minum teh tawar, ha …ha..ha..

Selesai sarapan, kegiatan selanjutnya adalah melakukan rutinitas di tempat kerja. Mengendarai motor di jam-jam kritis (07.15-08.00 WIB dan jam 17.00-18.00 WIB) perlu sedikit waspada dan kehati-hatian. Laju kendaraan satu dan lainnya tidak ada yg mau mengalah, jika terjadi kemacetan trotoar yang disediakan untuk pejalan kaki jadi jalur alternatif bagi pengendara motor, saya sempat beberapa kali mencobanya dan ternyata cukup ampuh untuk memutus alur kemacetan yg cukup panjang 
Di Traffic Light pun juga parah, kendaraan yg harusnya berhenti di belakang garis stop banyak yang nangkring di depan zebra cross, kembali para pejalan kaki harus merana meliuk-liuk diantara motor dan mobil hanya untuk menyebrang jalan. Dan jika warna lampu telah beralih ke hijau, parade klakson pun dimulai. Sedikit yang mau bersabar untuk menunggu kendaraan di depannya memindah gigi dan menekan pedal gas. Huffhh…

Bus way pun juga tidak luput dari sasaran  untuk menghindari kemacetan, polisi-polisi lalu lintas yg sedang bertugaspun tampak  pasrah melihat berbagai pelanggaran lalu lintas tersebut. Bagaimana dengan angkutan umum seperti metromini dan mikrolet? Sama saja. Berhenti tidak pada tempatnya dan main potong sudah galib dilakukan. Menambah macet dan lengkingan klakson mobil-mobil lain yg merasa dihalangi. Sering saya menahan nafas ketika melewati terminal bus Senen menuju kampus. Bus-bus ukuran kecil itu saling berebut masuk terminal dengan kecepatan tinggi.  Terakhir teman kerja saya menjadi korban keganasan metro mini, motornya ditabrak ketika akan berbelok arah. Syukurlah hanya luka memar dan lecet saja.

Hati kecil saya selalu bertanya, “Kapan ya jalanan di jakarta bisa tertib atau bahkan lengang seperti Car Free Day di Sudirman-Thamrin?” Sayapun lalu membayangkan seandainya proses pemberian Surat Ijin Mengemudi tidak sembarangan dan “cuma-cuma”, jadi yang memiliki SIM adalah mereka-mereka yg benar-benar layak dan mengerti benar tentang lalu lintas. Jika di Barat saja untuk mendapatkan SIM seseorang harus melewati berbagai macam tes yang ketat, di Indonesia dengan mengurus secara kolektif pun jadi. Biarkanlah uang yang berbicara dan segala urusan Anda akan selesai dengan sendirinya.

Sering di media olah raga saya membaca seorang atlet sepakbola terpaksa kehilangan SIM-nya gara-gara mengemudi dengan kecepatan tinggi dan dalam kondisi mabuk. Dengan dicabutnya SIM tersebut pengemudi yang ugal-ugalan tadi tidak bisa lagi mengendarai kendaraan bermotor apapun. Camera Detector menjadi alat yang cukup ampuh merekam nomor-nomor kendaraan yg melanggar. Ah, seandainya sistem kita sudah mampu seperti itu  dan Indonesia sudah punya MRT seperti Singapura. Alangkah nyamannya menikmati pagi di Jakarta dan kitapun tidak akan segan mengucapkan “Selamat Pagi Jakarta”.

Diposkan di Multiply pada 27 April 2010 07:42 PM