Tulisan kali ini berkisah tentang rangkuman perjalanan saya bersama teman-teman Bike to Work Indonesia (B2W). Komunitas pekerja bersepeda yang punya semangat, gagasan dan harapan akan terwujudnya udara bersih di perkotaan, Cool!

Kisah ini dimulai pada saat hari bebas kendaraan bermotor di akhir Juni. Berawal dari obrolan ringan diatas sepeda antara  om Lutfi, om Eli, tante Ria dan bunda Upik, berlanjut hingga ke Kota Tua dan pelabuhan Sunda Kelapa. Ditemani tante Yatmi dengan seli-nya, kami berenam beriringan menggowes sepeda kami menuju Kota Tua. Sesi foto-fotopun tak pernah absen ketika kami melewati gedung-gedung atau objek yang cukup elok (baca: dijadikan korban kenarsisan). Tak kurang 200-an photo berhasil direkam dalam kamera kami. Ck..ck..ck..

Begitulah awal mula saya menemukan semangat kembali untuk mengayuh sepeda. Setelah sebelumnya sepeda yang saya beli lebih sering menjadi penghias garasi, teronggok kotor dan berdebu. Tambahan lagi kondisi jalan di Jakarta yang menurut saya masih kurang aman untuk bersepeda kecuali di hari libur, itupun di ruas-ruas jalan tertentu seperti Thamrin dan Sudirman. Lambat laun, setelah berkenalan dengan komunitas B2W dengan semangat dan harapannya yang cukup mulia itu, perlahan tapi pasti saya menemukan kepercayaan diri untuk kembali mengayuh pedal. Meskipun tidak setiap hari bersepeda tapi setidaknya dalam seminggu ada waktu untuk bercengkrama dengan “element” saya.

Cerita Gowes Masih Berlanjut

Setelah gowes kota tua-sunda kelapa, saya mengikuti fun bike (FB) pertama saya di Ibu Kota. FB dalam rangka memperingati hari Bhayangkara. Pesertanya cukup banyak karena digelar serentak di 25 polda di seluruh Indonesia. Acara inipun berhasil mencatatkan dirinya dalam museum rekor Indonesia dengan jumlah peserta terbanyak. Dari FB Bhayangkara  berlanjut ke Karnaval Sepeda dengan rute Senayan-Kota Tua-Senayan.

Karnaval Sepeda adalah puncak acara dari Kongres Sepeda Indonesia. Mengumpulkan semua klub sepeda di seluruh tanah air di Jakarta. Hasil kongresnya? I don’t know. Saya tidak tertarik dengan kongres-kongresan itu. Yang membuat saya tertarik adalah peserta karnaval sepedanya. Mulai dari anak sekolah sampai para pini sepuh, tumplek blek memenuh jalanan. Saya tetap ditemani sahabat setia saya, ada om Asqolani, om Dar, om Lutfi, nte Ria, nte Yatmi, nte Yani dan ayahnya. Dandanan peserta pun bermacam-macam, ada yang berdandan sebagai suster, penjual jamu, tukang sayur sampai pejuang kemerdekaan. Pakaian adat daerah pun tak ketinggalan menyemarakkan karnaval ini.

Pasukan Kunang-Kunang Beraksi

Dari karnaval sepeda beralih ke acara “Kelap-kelip” , bersepeda di malam hari dengan menyalakan lampu pengaman. Ini adalah kelap-kelip edisi ke-7 yang diselenggarakan oleh komunitas B2W. Bertindak sebagai host adalah para cyclist dari Depok atau lebih populer dipanggil “RODEX”.

Ternyata bersepeda di malam hari cukup seru dan menantang Disamping kelap-kelip lampu yang membuat semarak, menjadi perhatian pengendara motor  dan mobil yang terjebak macet di jalanan ibu kota adalah hal yang paling menyenangkan. Keberadaan para “marshal” yang bertugas untuk mengamankan jalan sangat membantu kami dalam “menjinakkan” laju kendaraan bermotor. Kami  pun bisa dengan aman terus menggowes sepeda kami menembus gelapnya malam.

Tiba di lokasi finish (Gedung Badan Pengelola Lingkungan Hidup Daerah DKI Jakarta), acara kelap-kelip dilanjutkan dengan talkshow seputar sepeda dan lingkungan hidup. Sekilas saya mendengarkan bahwa pada tahun 2014 Jakarta diperkirakan akan lumpuh total dikarenakan semakin banyaknya jumlah pengendara kendaraan bermotor dan kurang sigapnya pemerintah menyediakan moda transportasi yang baik untuk mengurai kemacetan. Nah, dengan bersepeda bisa menjadi solusi. Sepeda adalah salah satu moda transportasi yang murah, anti macet dan ramah lingkungan. Tinggal dibuatkan satu skema yang jelas yang membuat masyarakat jadi antusias untuk bersepeda. Salah satu konsep yang digagas adalah “Park and Ride” dan “Bike and Ride”. Jika selama ini yang ada adalah penitipan motor di stasiun ataupun terminal, bukan tidak mungkin ke depannya ada parkir sepeda di terminal ataupun stasiun tersebut. Cara lainnya adalah dengan menyediakan parkir sepeda yang aman dan cukup representatif di halte-halte busway. Jika saya tidak salah dengar halte busway Dukuh Atas akan dijadikan pilot project. Hmm..konsep yang sangat bagus, tapi alangkah lebih bagusnya jika sudah ada jalur khusus bagi para pesepeda.

Ada sedikit kisah yang agak memalukan bagi saya waktu gowes pulang ke kostan bersama nte Endang, goweser Cempaka Putih. Apa itu? Nyasar hingga ke kuburan Karet., wkwkwkwk …Sebenarnya saya sudah berniat putar balik ke arah kuningan, tapi om Juni yang tinggal di Mangga Dua bilang terus saja. Dan akhirnya kami berdua pun tertinggal di belakang hiks…maaf ya nte, besok-besok bawa gps deh biar ga kesasar

Jakpus-Jaksel? Gowes terooos ….

Minggu kemarin patut dicatat sebagai rute terpanjang saya mengayuh sepeda. Sekitar 50-60 km, saya tidak tahu pastinya. Selepas Subuh, saya meluncur menuju Juanda Raya bertemu dengan om Riefky dan lanjut ke Kuningan. Di sana om Dar dan nte Ria sudah menunggu, padahal nte Ria sudah wanti-wanti ga boleh telat. Tapi apa daya kami masih terlambat sekitar 20 menit. Dari Kuningan kami lanjut ke Palmerah, kali ini FB edisi ulang tahun Kompas Gramedia. Pesertanya cukup banyak, hanya saja lokasi start amat sangat tidak layak. Selain jalanan yang cukup sempit, jalur keretapun juga jadi menghambat laju sepeda peserta. Banyak pula peserta yang harus menuntun sepedanya saking macetnya jalan. Andai saja start dan finishnya juga sama di Senayan tentulah tidak serumit ini. Saya sendiri kebagian start paling belakang dan terpaksa harus menunggu hampir 2 jam.

Pulang dari Senayan, kami lanjut ke Lebak Bulus. Mengunjungi Babe Idin, pahlawan lingkungan yang berhasil melestarikan bantaran sungai Pasanggrahan. Singgah sebentar di FX untuk sholat Duhur setelah itu lanjut ke Lebak Bulus lewat Pondok Indah. Rombongan yang ikut kali ini adalah nte Thya, nte Nirwana, nte Yatmi, nte Ria, om Dar, om Lutfi dan saya sendiri. Bagi saya ini adalah perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan, tapi rasa lelah itu terbayar dengan asrinya bantaran sungai Pasanggrahan. Dan tentu bagi om Lutfi adalah si merah . Oh, iya di kali Pasanggrahan ini ada pagelaran “Seribu Pohon Sejuta Harapan”. Sayang kami datang terlambat sehingga tidak bisa ikut berpartisipasi menanam pohon bersama peserta yang lain.

Cukup banyak juga pesertanya, umumnya adalah anak-anak sekolah. Setelah berfoto bersama babe, kami susur sungai. Kanan kiri sungai rimbun ditumbuhi pepohonan, keganasan nyamuk kebun yang sempat diperingatkan nte Yatmi nyata-nyata enggan untuk nimbrung. Mungkin mereka sudah jiper dengan bau kita yang …hmmm….Ada baiknya juga karena kulit kita urung untuk bentol-bentol. Selepas sholat Ashar, singgah sebentar di warung mie Aceh untuk isi BBG (bahan bakar gowes) setelah itu pulang ke rumah masing-masing.

Itulah sedikit cerita gowes saya bersama teman-teman B2W, saya yang jam terbangnya masih rendah ini cukup keteteran juga mengimbangi gowesan mereka. Practice make perfect, ya betul. Saya harus menambah jam terbang dan menjelajahi trek-trek baru yang belum pernah saya datangi, diantaranya adalah Jalur Pipa Gas dan Hutan UI di Depok. Semoga terlaksana …

Sepedaan yuk, You’ll Never Bike Alone!

 

Diposkan di Multiply pada 27 Juli 2010 08:15 AM