Tahun Anggaran 2010 sudah mendekati garis finish sementara penyerapan anggaran belumlah optimal. Sudah menjadi rahasia umum untuk mempercepat penyerapan anggaran semua Kementerian/Lembaga berlomba di akhir tahun ini untuk mengadakan berbagai kegiatan. Mulai dari pelatihan, sosialisasi ataupun mentransfer uangnya ke daerah dalam bentuk SKPA.

Salah satu kegiatan yang cukup membuat gelisah adalah mutasi pegawai dalam rangka penyerapan anggaran perjalanan dinas. Sudah menjadi agenda rutin di Kementerian tempat saya bekerja bahwa mutasi dalam skala besar dilakukan menjelang tutup tahun anggaran. Mulai dari tingkat eselon III, IV sampai ke front liner. “Dunia persilatan kembali berguncang,” begitulah kelakar salah satu nara sumber dalam acara sosialisasi Sistem Akuntansi Instansi yang saya ikuti mulai dari kemarin sampai nanti malam.

Menurut sumber yang dapat dipercaya seribu orang pelaksana harus bersiap-siap mengisi pos baru diseluruh kantor baik  di kantor pusat maupun daerah. Dari Sabang sampai Merauke, dari Tahuna sampai Larantuka. Tak jarang banyak rekan-rekan yang cukup asing dengan nama kota dimana tempat mereka ditugaskan nanti. Seperti saya contohnya, mendapatkan tugas pertama di Nabire, Papua. Hal pertama yang terbayang dalam pikiran ini adalah gambaran-gambaran negatif. Padahal dalam kenyataannya setelah dijalani semua gambaran-gambaran negatif itu berangsur-angsur menghilang (kecuali bagi mereka yg menginginkan gambar gambar negatif itu masih bertahan di pikiran mereka).

Benarlah kata orang-orang tua dulu, Anda tidak akan pernah tahu sampai Anda mencobanya. Gambaran saya tentang Nabire yang masih dikelilingi hutan (memang benar masih banyak hutan), warganya yang masih primitif dan semua kesulitan-kesulitan layaknya daerah terpencil pupus ketika saya mampu berkompromi dengan keadaan yang ada. Bagi saya mutasi adalah tempat belajar bersosialisasi dan berakulturisasi dengan penduduk dan budaya setempat, belajar untuk bersyukur, belajar untuk bersabar dan belajar untuk ikhlas. Bukankah Allah telah memerintahkan kita untuk bertebaran di muka bumi dan untuk saling mengenal berbagai ras  manusia yg memang beragam?

maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. [62:10]

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.[49:13]

Mutasi adalah hal yang lumrah dan harus disikapi dengan wajar, sebagai abdi negara harus siap ditempatkan dimana saja dimana negara membutuhkan tenaga dan pikiran kita. Pengabdian tidak mengenal tempat dan waktu, dan sudah selayaknya kaki dan tangan melangkah dengan ringan. Seringan tangan ketika pertama kali menandatangani Surat Pernyataan Bersedia Ditempatkan Dimana Saja Surat tersebut adalah sebuah janji, dan bagi saya yg muslim pantang hukumnya melanggar janji.

Ketika mutasi sudah menasbihkan nama-nama kita, terimalah dengan ikhlas dan penuh syukur karena Allah telah memberikan kesempatan kita untuk mengenali bumi-Nya yg sebelumnya di luar jangkauan kita.

Mercure Ancol, 041110.

Diposkan di Multiply pada 04 November 2010 05:36 AM