Jika sudah berurusan dengan yang namanya traveling tidak ada kamus bosan dalam hidup saya. Apalagi bila sudah bertemu dengan teman-teman yang satu jiwa, jiwa pengelana, membuat hasrat untuk menjejakkan kaki ke tempat baru semakin menggebu.

Kali ini saya berkelana bersama rombongan. Tujuan kami adalah pantai-pantai di kawasan Pangandaran, Ciamis Jawa Barat. Pangandaran menyimpan banyak sekali potensi wisata diantaranya adalah Pantai Barat, Pantai Batu Karas, Pemandian Alam Citumang dan yang menjadi permata diantara semua obyek wisata Pangandaran (menurut saya pribadi) adalah Cukang Taneuh a.k.a Green Canyon.

Hari Pertama: Terminal Kampung Rambutan-Pangandaran

Perjalanan dari Kampung Rambutan menuju Pangandaran menghabiskan waktu 8 sampai 9 jam. Tiket bus ekonomi seharga Rp 55.000,- dan keberangkatan terakhir jam 9 malam. Kami tidak beruntung mendapatkan bis AC karena harus menunggu beberapa teman yang terjebak kemacetan Jakarta.

Jam 9 malam bis kami bertolak menembus gelapnya malam dan padatnya jalur Nagrek. Jam 5.30 WIB kami memasuki terminal Pangandaran. Perjalanan dilanjutkan ke Pantai Barat dengan menggunakan becak seharga Rp 10.000,-

Di Pantai Barat kita bisa bersampan membelah ombak samudera Hindia, melihat terumbu-terumbu karang dan menemui sahabat lama, para kera hutan, di Cagar Alam Pangandaran. Harga sewa perahu yang bisa diisi sampai 10 orang dibanderol Rp 200.000,- dan untuk masuk ke Cagar Alam dikenai retribusi Rp 2.000,-

Goa-goa Jepang peninggalan perang dunia ke dua, Goa lanang, reruntuhan candi dan air terjun adalah beberapa pusaka yang tersimpan dalam Cagar Alam ini. Puas trekking di Cagar Alam Pangandaran perjalanan kami lanjutkan ke Cijulang. Tempat dimana Green Canyon terlukis begitu indah, super cool.

Kami cukup beruntung karena tiga hari kebelakang Pangandaran tidak hujan sama sekali dan artinya hijaunya air Cukang Taneuh bisa kami nikmati sepuasnya. Benar saja begitu sampai di pintu gapura, hijaunya air berkilau menyejukkan mata. Setelah membayar tiket masuk berikut sewa perahu seharga Rp 75.000,- (perahu dapat diisi sampai 6 orang) kami menyusuri sungai untuk sampai ke permata kami.

“Subhanallah, cool, wow, keereenn” itulah kata-kata yang terucap dari mulut kami waktu pertama disambut oleh tetesan-tetesan air dari tebing. Cukup banyak perahu yang bersandar waktu itu, entah sekedar menikmati pemandangan, berfoto, atau menguji adrenalin dengan body rafting dan melompat dari Batu Payung.

Tak hanya ingin sekedar berfoto kami juga memilih menghanyutkan diri mengikuti derasnya arus. Sebelumnya kami telah sepakat untuk membayar Rp 10.000,- masing-masing orang untuk jasa pemandu. Dengan bantuan tali dan tangan pemandu akhirnya kami sukses menaklukkan derasnya air.

Menghayutkan diri mengikuti arus, terapung memandangi langit dan pepohonan sungguh membuat ketagihan. Begitu iri rasanya memandangi teman-teman yang memanjat tebing dan kemudian melompat dari atas Batu Payung, tapi keadaan memang tidak memungkinkan bagi saya untuk melakukan itu

Menjelang senja kami melanjutkan pengembaraan menuju pemondokan kami di Pantai Batu Karas. Karena matahari telah terbenam, indahnya Batu Karas terselimuti oleh gelapnya malam. Cukup banyak tempat untuk bermalam di Batu Karas mulai dari tipe pemondokan, bungalow sampai hotel international seperti Javacove. Hotel ini menjadi salah satu hotel rekomendasi dari National Geographic bagi wisatawan manca negara. Harga penginapan bervariasi mulai dari Rp 250.000 s.d Rp 1.500.000,-

Rumah makan dan kafe banyak berjejer di pinggir kawasan wisata (Batu Karas terbagi menjadi kawasan wisata dan kawasan nelayan) dan makanannyapun menurut kami lumayan enak. Setengah kilo Kakap dan Cumi-cumi masing-masing dihargai Rp 40.000,- Ayam bakar dengan potongan yang jombo dibanderol Rp 15.000,- cukup nikmat untuk memanjakan lidah.

Hari kedua: Batu Karas dan Citumang

Hari kedua adalah saatnya mengeksplorasi pantai Batu Karas. Di sini kita bisa mencoba beberapa permainan seperti banana boat, body board dan belajar berselancar. Untuk permainan yang ditarik oleh speed boat dihargai Rp 40.000,- s.d Rp 50.000,- tergantung banyaknya peserta. Jika menjadi penglaris akan diberi harga lumayan murah. Kami sempat ditawari Rp 35.000,- untuk tiga putaran, murah kan? Datanglah pagi-pagi ketempat wisata jika ingin mendapatkan diskon

Di Batu Karas kami masih sempat menikmati rona jingga matahari yang baru terbit. Jangan lewatkan juga berkunjung ke private beach Batu Nunggul yang lokasinya bersebelahan dengan Batu Karas. Jika dibandingkan dengan pantai Barat, pantai Batu Karas jauh lebih enak dinikmati karena tidak terlalu ramai.

Menjelang tengah hari kami berkemas dan melanjutkan perjalanan ke Citumang, sungai yang eksotis dengan airnya yang jernih dan guanya yang alami. Body rafting adalah kegiatan kami setelah sebelumnya river trekking menyusuri pinggiran sungai menuju mulut gua. Dingin seperti kulkas, itulah yang terasa pada telapak kaki setelah bersentuhan dengan air Citumang.

Arus di Citumang tidak sederas di Green Canyon, namun demikian masih saja sukses membuat beberapa kawan berenang di tempat, termasuk saya Melompat dari ketinggian menjadi favorit untuk uji nyali. Setelah puas melompat waktunya untuk menghanyutkan diri, jalurnya cukup panjang dan lebih aman untuk berenang sehingga kami puas berbody rafting disini.

Air terjun, akar-akar pohon yang menjuntai dan guguran daun hutan menjadi ornamen yang cantik bagi Citumang. Ditambah lagi gemericik air yang memainkan melodi alam yang menenangkan jiwa.

Untuk masuk Citumang diharuskan membayar Rp 10.000,- dan retribusi desa (ada dua tempat) Rp 10.000,- sedangkan untuk toilet diseluruh kawasan Pangandaran menggunakan tarif flat Rp 2.000,-. Dua hari berkunjung rasanya masih kurang karena kami tidak berkesempatan menikmati sunset di Batu Hiu. Semoga dilain waktu ada kesempatan untuk kembali lagi, aamiin.

Demikian catatan ringkas perjalanan saya yang ditulis di atas bus dalam perjalanan pulang ke Jakarta. Semoga dapat memberikan sedikit gambaran untuk sahabat yang belum dan ingin melakukan perjalanan ke Pangandaran. Jalur alternatif selain menaiki bis adalah dengan kereta api, turun di stasiun Banjar kemudian sambung dengan Elf ke Pangandaran. Salam travelling 

Catatan : Bis yang kami tumpangi mengalami kerusakan di dekat jalur Nagrek, alhasil harus berganti bis setelah menunggu satu jam lamanya.

Diposkan di Multiply pada 29 Mei 2011 09:13 PM