Tak terasa hari telah berganti dengan minggu dan minggup juga telah berganti dengan bulan. Tahun 2010 telah menginjakkan kakinya di bulan Maret. Itu berarti sudah hampir dua tahun saya hidup dan bekerja di Ibu Kota. Adaptasi yang lumayan berat harus saya lewati. Berkompromi dengan keadaan yg serba ruwet membuat saya harus meningkatkan tingkat “kegilaan” satu level lebih tinggi dari sebelumnya.

Pelan tapi pasti akhirnya saya mampu menemukan ritme saya dan mulai mencintai kota ini. Dalam keliarannya Jakarta mempunyai pesona tersendiri yang tidak dimiliki oleh kota-kota lainnya. Raungan mesin-mesin motor, mobil, bajaj, dan metromini yang saling beradu cepat di pagi, siang , dan malam hari seperti membisikkan sesuatu kepada saya. Bahwa roda waktu akan terus berjalan ke depan dan saya harus terus melaju dan menaikkan tempo jika tidak mau terlindas olehnya.

Dari pagi hingga pagi lagi kota ini seperti tidak ada matinya, dengan aktivitas yg berbeda tentunya. Pernah suatu malam saya dan sahabat saya singgah di sebuah warung di belakang Plaza Indonesia untuk mencoba mie goreng jawa di salah satu warung kaki lima. Malam itu saya tertarik dengan pertunjukan pengamen keliling yang sedang mentas di seberang jalan. Dengan sound system yang komplit dan dua orang penyanyi yang dandanannya cukup seronok mereka berdendang lambada menghibur orang-orang yang nongkrong disitu. Seorang kakek-kakek tampak khusyuk bergoyang mengikuti irama. Nampak binar bahagia dari kakek itu, sepertinya segala kesulitan hidup yang dihadapi tak lagi singgah dalam dirinya.

Saya jadi teringat dengan pesan ustadz Idrus di Al Manar, bahwa setiap kesulitan akan menjadi sulit jika kita menganggapnya sulit begitu pula sebaliknya akan menjadi mudah jika kita optimis mampu mengatasinya. Ustadz Idrus lantas memberikan contoh, ada tumpukan kotak yang harus dipindahkan untuk memenuhi ruangan gudang. Jika kita terus berpikir sampai kapan bisa memenuhi gudang itu dengan kotak-kota tersebut sampai kiamatpun gudang itu tidak akan penuh. Berbeda halnya jika kita mulai memindahkan kotak itu satu persatu ke dalam gudang dengan semangat dan optimis, tak peduli berapa masa yang akan dihabiskan niscaya gudang itu akan penuh terisi juga.

Pantang menyerah, inilah yang saya peroleh dari kota ini. Di dalam gerbong yang penuh sesak masih ada saja yang menawarkan jajanan kepada penumpang. Tak peduli beratnya dagangan yang dibawa dan bau keringat yang menguar, para pedagang itu dengan semangat menawarkan dagangannya kepada para penumpang yang acuh tak acuh. Tak peduli dengan panasnya matahari dan dingin malam yg menusuk para pedagang asongan itu penuh antusias mendatangi mobil-mobil yg berderet di lampu merah. Bahkan dengan keterbatasan fisik sekalipun seorang pemuda dengan sabar dan tanpa malu duduk di kursi roda di perempatan lampu merah Tugu Tani. Menunggu dengan sabar pengendara yang sudi membeli korannya.

Di Jakarta satu lagi saya menemukan pelajaran tentang hidup dan semoga pelajaran-pelajaran lainnya akan terus berdatangan dimasa mendatang. Mengutip perkataan Sir Winston Churchill “We make a living by what we get, we make a life by what we give.”

Diposkan di Multiply pada 7 Maret 2010 07:50 PM