Lestari Alamku Lestari Desaku

Dimana Tuhanku Menitipkan Aku

Nyanyi Bocah-bocah Di Kala Purnama

Nyanyikan Pujaan Untuk Nusa

Damai Saudaraku Suburlah Bumiku

Kuingat Ibuku Dongengkan Cerita

Kisah Tentang Jaya Nusantara Lama

Tentram Kartaraharja Di Sana

Mengapa Tanahku Rawan Ini

Bukit Bukit Telanjang Berdiri

Pohon Dan Rumput Enggan Bersemi Kembali

Burung-burung Pun Malu Bernyanyi

Kuingin Bukitku Hijau Kembali

Semenung Pun Tak Sabar Menanti

Doa Kan Kuucapkan Hari Demi Hari

Kapankah Hati Ini Kapan Lagi

(Lestari Alamku: Gombloh)

Sahabat tentu tidak asing dengan lagu dari musisi legendaris kita almarhum Gombloh. Kalau kita simak lirik lagu itu begitu jujur menggambarkan kondisi alam di bumi pertiwi. Yang dulunya hijau permai ditumbuhi pepohonan kini telah bertransformasi menjadi lahan-lahan gersang. Dominasi pepohonan telah dikalahkan oleh bangunan-bangunan tinggi.

Konsekuensi logis dari negara yang sedang berkembang adalah terus tumbuhnya pembangunan diberbagi sektor. Industri, properti, pertanian, perdagangan, perkebunan, dan pertambangan adalah beberapa sektor yg terus tumbuh. Imbasnya dibutuhkan banyak lahan untuk menunjang kegiatan-kegiatan tersebut. Dari properti misalnya, banyak lahan-lahan kosong yang disulap menjadi komplek perumahan. Entah itu dalam bentuk apartemen, rusun atau bahkan cluster-cluster elit seperti di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK) Penjaringan Jakarta Utara.

Konon kawasan PIK dulunya adalah rawa-rawa yang banyak ditumbuhi mangrove yang menjadi benteng pelindung kawasan Jakarta Utara dari air pasang. Karena kebijakan penguasa dan kaum berduit kawasan itu perlahan tapi pasti berubah wajah menjadi hunian elit dengan segudang arogansinya. Hutan Mangrove Tol Sedyatmo dan Taman Wisata Alam Kapuk menjadi dua dari empat tempat konservasi yang masih tersisa di Kawasan PIK. Meski tidak begitu luas dua area ini memegang peranan cukup vital bagi ekosistem pesisir di sepanjang garis pantai Jakarta Utara.

Secara fisik hutan mangrove berfungsi untuk menjaga garis pantai agar tetap stabil, melindungi pantai dan tebing sungai,mempercepat perluasan area pantai melalui pengendapan, mencegah terjadinya abarasi air laut, perangkap bagi polutan dan limbah, melindungi daerah di belakang mangrove dari hempasan gelombang dan angin kencang, mencegah intrusi garam ke darat serta menjadi tempat pengolahan limbah organik. Secara biologis hutan mangrove berfungsi sebagai tempat berkembang biak (nursery ground) berbagai jenis burung, mamalia, reptil dan serangga, tempat memijah (spawning ground) dan mencari makanan (feeding ground) berbagai biota laut seperti udang, ikan dan kepiting.

Hutan Mangrove Tol Sedyatmo

Kawasan ini masih satu area dengan PIK lokasinya disamping tol Sedyatmo (tol kearah bandara). Memiliki areal seluas 95.5 hektar tempat ini menjadi tujuan ekowisata bagi masyarakat umum. Tiket masuknya amat sangat murah hanya Rp 1.000,- Kita bisa menikmati hijaunya hutan mangrove baik melalui jembatan sepanjang 400 meter ataupun menyusuri jalan setapak sepanjang hutan. Kawasan ini selain sebagai tempat konservasi juga sebagai tempat pendidikan bagi anak-anak dan masyarakat umum. Jika ingin menanam mangrove cukup membayar Rp 5.000,- untuk satu bibit. Cukup murah bukan?

Taman Wisata Alam (TWA) Angke Kapuk

Satu area konservasi mangrove di kawasan PIK adalah TWA Angke Kapuk, lokasinya tepat dibelakan gedung Tzu Chi yang masih dalam proses pembangunan. Tiket masuknya sebesar Rp 10.000,-. Tempat ini adalah kawasan pelestarian alam yang dimanfaatkan untuk kegiatan wisata alam dan berpusat pada pengembangan ecotourism dengan luas area 99.82 hektar . Dulunya kawasan ini adalah area tambak liar yang kemudian oleh seorang ibu rumah tangga (saya lupa namanya) disewa dari pemprov untuk kemudian dijadikan area konservasi mangrove.

Ya, TWA dikelola oleh perorangan bukan oleh pemprov seperti yg dituliskan diberbagai sumber. Tidak ada subsidi dari pemerintah sehingga semuanya murni dari usaha ibu tersebut. Kami sempat mengobrol dengan pengelola TWA (Pak Slamet dan Cak Wahyudi) tentang suka duka pembangunan TWA. Masuk ke TWA ada beberapa peraturan yang harus kita patuhi:

  1. Jika membawa makanan dari luar ada tempat khusus yang disediakan untuk bersantap. Jadi tidak boleh sembarangan makan di area ini.
  2. Semua jenis kamera baik itu saku ataupun DSLR dikenakan biaya Rp 500.000,- kecuali kamera ponsel gratis. Semua isi barang bawaan akan diperiksa di pos satpam.

Kami sempat protes kepada pengelola kenapa membawa kamera saja kok “dilarang” sementara di tempat wisata lain dibebaskan. Kemudian Cak Wahyudi menjelaskan panjang lebar hal ihwalnya. TWA ini disewa oleh perorangan dari pemprov DKI selama 30 tahun. Karena dikelola oleh perorangan maka otomatis semua biaya operasional ditanggung oleh si empunya. Dalam sebulan biaya yang dikeluarkan mencapai Rp 100.000.000,- dengan pemasukan antara Rp 40.000.000,- s.d Rp 60.000.000,- “Yang penting tiap bulan kami jangan sampai nombok 80%” begitulah cak Wahyudi menjelaskan. Lantas kami jadi mahfum kenapa memotret disana jadi mahal, toh masih ada kamera ponsel yang masih bisa dipakai. Lantas kami juga menanyakan paket penanaman dan konservasi yang juga kami bilang termasuk mahal.Menanam pohon saja mahal banget ya? kemudian pak Slamet gantian memberi penjelasan, jika dihitung secara matematis pengelola justeru tekor. Biaya pembibitan sebatang mangrove mencapai Rp 30.000,- dikali dua mejadi Rp 60.000,- makan siang standar nasi box Rp 20.000,- souvenir berupa kaos Rp 70.000,- belum pembuatan media tanam (bronjong), biaya pemeliharaan, upah pekerja dll. Jadi malah minus kan?

Di TWA jika mangrove yang kita tanam mati  akan langsung diganti oleh pengelola, jadi jangan khawatir mau setahun lagi atau dua tahun lagi datang berkunjung kita masih bisa melihat mangrove yang kita tanam biaya yang tidak mahal untuk warisan kepada anak cucu kita. Lantas kenapa pengelola masih mau bertahan dengan kondisi seperti itu? Jawabannya sederhana karena kecintaan kepada alam yang membuat mereka bertahan didera berbagai persoalan. Cak Wahyudi bercerita si ibu sampai harus menjual rumah-rumahnya untuk menutupi biaya operasional jika memang kondisi sedang minus, kini si ibu hanya punya satu rumah yang dihuni bersama keluarganya. Sayang kami tidak sempat bertemu dengan si ibu karena beliau sedang berbelanja ke pasar.

Pernah ada anggota dewan yang terhormat datang berkunjung, ada tiga mobil waktu itu. Dengan pongahnya anggota dewan itu ingin masuk gratis ke TWA. Cak Wahyudi langsung nyolot, “ini bukan dikelola oleh pemerintah, gaji bapak berapa sih? tanya cak Wahyudi   “Rp 40.000.000,- sebulan” kata anggota dewan. “Masa gaji segitu bayar Rp 10.000,- saja enggan” cak Wahyudi berkomentar. Lalu anggota dewan itu ngomel-ngomel dan langsung meninggalkan TWA😆 Pernah juga ada pengunjung yang komplain karena tidak bisa menggelar tikar dan piknik layaknya di tempat lain (Ragunan, Ancol) dan meminta uang Rp 10.000,- dikembalikan, ada-ada saja. Namanya juga pusat konservasi, kalau dijadikan tempat piknik biasa pastilah semakin banyak sampah berserakan dimana-mana. Saat ini saja, pihak pengelola juga sudah kerepotan menahan gempuran sampah kiriman dari sungai-sungai di Jakarta. Kita doakan filter sampah yang dalam proses pengerjaan segera rampung sehingga kawasan TWA bisa sepenuhnya bebas dari sampah.

TWA belumlah dikelola secara profesional masih menggunakan manajemen rumah tangga,tak heran kekurangan disana-sini masih kami jumpai. Mereka belum berani melakukan promosi karena beberapa fasilitas yang ada dalam proses pembangunan. Seperti area berkemah, beberapa pondok, toilet dan lain-lain. Masjidnya juga baru selesai tiga minggu lalu. Di area PIK yg luas itu baru TWA ada yang namanya benar-benar masjid. Konsep yang dikembangkan juga benar-benar back to nature kemnbali ke alam. Semua bahan yang digunakan untuk membangun terbuat dari kayu. Hanya karena ada kunjungan dari RI-1 saja area jalan di paving blok, tapi masih menyisakan cela untuk tumbuhnya rerumputan.

Televisi hanya disediakan di kantin, jadi benar-benar “bersemadi” waktu kita berkunjung kesana. “Kalau kesini hanya untuk nonton sinetron buat apa?” begitu timpal cak Wahyudi a.k.a komandan.

Damai, tenteram, indah, itulah yang terlukis dalam hati. Suatu saat saya harus kembali kesana untuk ikut menanam mangrove, mewariskan hadiah kecil buat generasi-generasi mendatang. Dan semoga kesadaran masyarakat akan pentingnya melestarikan alam semakin tumbuh dari hari kehari. Jangan sampai kawasan mangrove di TWA yang tak lagi luas itu beralih fungsi menjadi mall terbesar se-Asia Tenggara. Tak rela rasanya jika suatu saat nanti anak cucu kita hanya mampu mengenal flora dan fauna lewat foto. Sahabat tertarik juga? Yuk ramai-ramai menanam mangrove disana

Alternatif transportasi kesana:

  • Kendaraan pribadi tentu saja: mobil, motor atau sepeda. Arah tujuan adalah Pantai Indah Kapuk.
  • Naik busway turun di halte pluit, kemudian menyebarangi Pluit Village dan naik angkot U11. Bilang ke sopir mau ke TWA Angke Kapuk PIK. Nanti minta turun di Tzuchi Center. TWA Angke Kapuk ada dibelakang Tzuchi Center. Untuk kawasan hutan mangrove tol Sedyatmo sepertinya tidak dilalui jalur angkutan umum, jadi harus menggunakan kendaraan pribadi untuk kesana.

Cara mencapai kesana:

  • Dari arah tol bandara Soekarno-Hatta, keluar tol arah Kapuk Muara, Pantai Indah Kapuk arah Waterboom, Golf dan Garden House -TWA
  • Dari Pluit keluar Muara Karang masuk Pantai Indah Kapuk terus Rumah Sakit PIK , Waterboom dan Golf, Garden House -TWA
  • Dari tol JORR Lingkar Barat keluar Kamal terus ke Jalan Kamal Raya, masuk kompleks Elang Laut, PIK arah Waterboom Golf, Garden House -TWA

Alamat Kantor TWA :
Jl.Loka Indah 4B, Warung Buncit, Jakarta Selatan
Telp: 081932254370, 08158030933
Fax: 021-79198883
Email: twa.angkekapuk@yahoo.com

Diposkan di Multiply pada 23 Mei 2011 09:25 AM