Tags


Ahad siang yang panas dan lalu lalang kendaraan yang tidak begitu ramai. Ya ketika libur memang enak menikmati jalanan ibukota, jalanan terasa begitu longgar tidak penuh sesak pada saat hari-hari kerja. Kecuali dibeberapa titik seperti gereja Kathedral dan sekitar PRJ, selebihnya lancar.

Siang tadi ada niatan untuk ke pasar baru, memesan sebuah karikatur untuk kawan di Jayapura. Maksud dan tujuannya membuat diriku senyum-senyum sendiri. Ada berjuta cara untuk mengungkapkan cinta Sebelum ke pasar baru singgah dahulu di Masjid Istiqlal, hmm .. tampak begitu ramai dan sesak. Aku baru ingat kalau hari ini ada acara Jakarta Berdzikir. Pakaian putih-putih menghias sepanjang trotoar ke arah masjid sedangkan beberapa anak-anak dan bapak-bapak berebutan menawarkan kantung plastik untuk menyimpan sandal .

Adzan sudah berkumandang lima menit yang lalu, antrian di tempat wudhu juga lumayan penuh. Campur-baur lelaki dan wanita :toe: padahal di depan pintu sudah ada tulisan “pintu masuk untuk jamaah laki-laki” *satu Selesai bersuci aku langsung ke lantai dua, mengambil shaf terdekat dan langsung takbiratul ikhram. Mencoba untuk khusyuk tapi selalu terganggu dengan teriakan security (ummahat) masjid yang coba menertibkan para jamaah supaya tidak sholat di jalan yang dapat menghalangi jamaah yang hendak lewat *dua Selesai salam aku langsung mengamati keadaan sekitar, dan ternyata barisan yang aku tempati berada di belakang shaf jamaah wanita, gubraks !!! *tiga

Haduh, bawaannya ingin marah saja. Sebodoh-bodohnya diriku setidaknya pernah membaca bagaimana adab seorang muslim jika berada di dalam bait Allah. Diantaranya adalah larangan berikhtilat lebih-lebih lagi di dalam masjid apalagi ditempat wudhu yang memperlihatkan sebagian aurat Selain itu adalah larangan untuk mengeraskan suara yang dapat menggangu kekhusyukan jamaah lainnya sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari: Ketika aku sedang berdiri di masjid, tiba-tiba seseorang melemparku dengan kerikil. Aku pun menoleh kepadanya, ternyata ia adalah Umar Bin Khattab. Ia berkata, “Pergilah dan datangkan dua orang tersebut.!”Lalu aku membawa kedua orang tersebut.Umar berkata. “Siapa dan dari mana kalian?” keduanya menjawab, “Dari Thaif.” Umar berkata, “Seandainya kalian adalah penduduk negeri ini, tentu akan membuat kalian pingsan, (karena) kalian meninggikan suara di masjid.”

Tentang shafnya jamaah lelaki Rasulullah bersabda “Sebaik-baik shafnya lelaki adalah yang pertama dan seburuk-buruknya adalah yang terakhir. Dan sebaik-baik shafnya wanita adalah yang terakhir dan seburuk-buruknya adalah yang pertama.” (HR. Muslim)

Salah sendiri juga yang tidak mau membaca tulisan bahwa lantai ini untuk jamaah wanita. Duh, ternyata susah hidup di bawah aturan atau memang diri sendiri yang tidak mau diatur? Alloh telah menurunkan Quran dan Rosululloh telah memberikan teladannya sebagai pedoman untuk kita lebih-lebih dalam hal sholat berjamaah. Jikapun ada bungkusan sendal yang menjadi penghalang antara tumit, shaf-shaf yang kurang rapat dan suara ring tone hand phone yang tidak mau kalah dengan bacaan imam adalah ketidak tahuan manusia yang memang belum tahu atau tidak mau tahu. Cerminan manusia yang selalu bercela, tiada yang luput dari salah dan dosa. Dan akupun termasuk diantaranya, mau belajar dan memperbaiki diri ataukah tidak? Itu adalah pilihan.