Tags

,


Refleksi empat tahun memasuki kedewasaan
Catatan singkat buat para sahabat

1 Oktober 2003

Bertiga kami melangkahkan kaki memasuki pintu sebuah gedung tua di pinggiran jalan Kalimantan. Tampak jelas deretan alphabet menghiasi list plang di pagar depan, dari rangkaian huruf-huruf itu terbaca jelas “Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara Jember” salah satu instansi vertikal Direktorat Jenderal Anggaran sebelum akhirnya berevolusi menjadi Direktorat Jenderal Perbendaharaan. Petualangan kami selama sepuluh bulan di kota Apel untuk sementara berlabuh di kantor ini.

Di kantor tempat aku belajar segala macam hal, mulai dari bagaimana menjadi seorang good worker, bekerja bersama team, menenggang perbedaan sampai menjadi pendengar setia cerita-cerita mami dan pakdhe disaat istirahat siang.

25 Oktober 2003

Akhir pekan yang tak akan pernah kulupa seumur hidupku. Akhir pekan yang indah, begitulah yang tergores dalam benakku.

Beberapa hari lagi memasuki Ramadhan bulan yang amat dinanti dan dirindu. Pukul 07.30, saatnya memenuhi janji bersilaturahim ke rumah mami. Anak beliau adalah kawan dekatku sejak smp, bersama dia kumasuki babak baru dalam hidupku. Puput begitulah biasa dia dipanggil, sahabat setiaku sejak SMP. Setelah menghabiskan satu potong cake dan sebuah lemper ayam, dia mengajakku melegalisir ijazah SMU. “Untuk persiapan ikut tes PNS, Vid” begitu dia menjelaskan.

Perjalanan ke arah Mangli cukup lancar, cerita ngalor-ngidul pun dimulai. Mulai dari tugas-tugas kuliah, masalah-masalah pribadi sampai masalah cewek. Setengah jam menunggu membuat jemu pisan, untungnya dia segera menampakkan batang hidungnya. Senyum mengembang dibibirnya, “balik yuuuuk…” aku sedikit memelas. ” Beres, tapi mampir ke kampus dulu. Pinjam CD game dulu otreh ?” Wah tawaran yang susah untuk ditolak, langsung saja ku iyakan. Sampai di kampus ternyata orang yang dicari tidak ada, terpaksa kembali ke Patrang. Nah, disekitar gedung DPRD sampai di depan STIEPER kami membisu. Entah mengapa serasa kosong, blank, sampai akhirnya ku kejutkan dia dengan sedikit berteriak “Awas nang ngarepmu Put!!!” *$##*%!!@@#$*

Senja menghias jendela salah satu ruangan yang tampak asing bagiku, ku lihat Ibu tersenyum. Kepalaku terasa pening, mata juga sangat berat untuk dibuka. Kakiku, oh…ku tak kuasa untuk menggerakkannya. Seperti digantungi beban beratus-ratus kilo beratnya. Aku langsung teringat Puput, “where are you my bro? how are you?” Pikiranku langsung berputar berusaha mencari tahu bagaimana nasib saudaraku itu. Oh, Allah semoga dia baik-baik saja. Dari Ibu aku tahu dia baik-baik saja, Alhamdulillah. Dia ada diruang bersalin ruang perawatan sudah penuh.

Aku masih beruntung bisa tidur di kelas ekonomi, kasihan dirimu bro. Untunglah dua hari kemudian dia sudah bisa pindah ke ruang VIP. Mami, Bu Tri (berdua dengan mami mereka adalah koki nomer wahid di kantor, dan aku salah satu penggemar masakan mereka, he..he…) Mas Cholid , Ibu Eliz , Mas Hermawan dan rekan-rekan kerjaku yang baru datang menjengukku. Subhanallah, belum genap aku satu bulan bekerja tapi rasa cinta mereka seperti kepada keluarganya sendiri. Do’a mereka mengiringi langkahku tuk segera sembuh, jazakumullah khairan katsiran.

Tiga hari berada di rumah sakit benar-benar membosankan. Setelah merayu dokter akhirnya aku diijinkan pulang tapi dengan satu syarat harus kontrol seminggu kemudian. Tapi itu tidak aku lakukan, dokter bilang tidak ada yang mengkhawatirkan dengan kakiku. Hanya odem biasa karena benturan, tiga atau empat hari lagi biasanya akan berangsur-angsur membaik. Melihat hasil rontgen pada kaki kanan memang tidak terjadi fraktur, Alhamdulillah tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Akhir Ramadhan

Ampunilah diriku wahai Tuhan yang menguasai alam, Tuhan yang Maha Pemurah, yang telah mengajarkan Al Quran. Tuhan yang telah menciptakan manusia dan mengajarnya hingga pandai berbicara. Tuhan yang telah mengatur peredaran matahari dan bulan dengan perhitungan yang Maha Teliti. Yang telah menciptakan tumbuh-tumbuhan dan pepohonan serta meninggikan langit dan meletakkan keseimbangan diantaranya.

Rasanya begitu banyak dosa yang mewarnai hari, kemaksiatanpun berlomba-lomba hadir seakan tak mau kalah memperberat neraca dosa ini. Astaghfirullah ..ku lewati ramadhan ini dengan berbaring ditempat tidur. Tidak ada perubahan yang berarti pada kaki kananku, masih bengkak. Entah sudah berapa banyak tukang urut yang datang, sampai tak terasa lagi rasa perih dan ngilu dipahaku. Semua usaha yang dilakukan bapak-bapak itu tidak membawa hasil. Nasihat orang tuaku untuk kembali ke rumah sakit aku tolak dengan halus, aku masih trauma dengan kejadian itu. Sempat terpikir untuk mengundurkan diri dari pekerjaanku, tapi air mata Ibu yang memberikan jawaban. Jangan menyerah, sesudah kesulitan ada kemudahan sesungguhnya sesudah kesulitan ada kemudahan.

Penghujung tahun 2003

Awal Desember 2003, Yustio dan Eko  dua sahabatku mengantarkan berkas-berkas lamaran menjadi PNS di DEPKEU. Sontak aku tersadar, ingin segera mengakhiri masa suram ini. Masa depan terbentang disana, ada dua pilihan: berlari menyongsong sejuta harapan atau merangkak tertatih sebagai seorang pesakitan yang setiap hari mengharapkan belas kasihan orang lain. Aku tidak ingin meraih opsi kedua, aku masih mampu dan aku bisa. Akhirnya setelah hampir sebulan penuh tak berdaya ku bulatkan tekad, ke rumah sakit untuk rontgen sekali lagi. There is something wrong with my leg. Kamis selepas Maghrib berdua dengan Ayah aku ke rumah sakit dan merontgen ulang kakiku. Ya, hasilnya paha kananku hancur Patah menjadi tiga bagian. Perawat sampai heran kenapa aku masih bisa betah dengan keadaan seperti itu Besok aku harus segera naik ke meja operasi, jujur sebenarnya paling alergi berurusan dengan jarum suntik dan pisau bedah gleks..tapi aku harus sembuh. Aku tak ingin mengecewakan ke dua orang tuaku, meski tak akan pernah lunas ku bayar semua hutangku kepada mereka, tapi setidaknya ada baktiku kepada keduanya.

Ayah marah saat itu, kecewa dengan hasil rontgen di rumah sakit terdahulu. Kenapa tidak sampai menyeluruh yang dirontgen (waktu itu yang dirontgen hanya lutut ke bawah, dan para medis melewatkan pahaku). Ba’da Jumat aku dioperasi hampir tiga jam, dokter sempat mengeluh karena cukup sulit menyusun kembali tulang-tulangku yang telah patah. Alhamdulillah, dengan usaha beliau dan atas izin Allah operasiku berhasil. Dokter juga minta maaf karena sempat lalai waktu itu, urusan tidak diperpanjang selesai sampai disitu.

Tahun Baru Harapan Baru

Tak terasa dua bulan lebih aku tidak masuk kerja, malu sekali saat itu. Dengan berbekal krug aku masuki kantor itu, diruanganku telah menanti semua rekanku. Untuk pertama kalinya aku berjumpa dengan pak dhe (beliau baru di mutasi dari KPKN Kuala Tungkal Jambi) seorang bos yang kocak dan juga bijak. Pelukan yang hangat mendarat ke tubuhku, oh sungguh sambutan rekan-rekan luar biasa. Mereka memberikan begitu banyak masukan dan dukungan untukku. Aku harus tetap belajar dan terus berjuang.

Siang-siangku lebih banyak ku habiskan di kantor, mendengarkan cerita mami di ruang komputer ataupun sahutan pak dhe dari ruang sebelah. Ya bertiga kami serasa menjadi tim yang kompak. Menjaga gawang seksi Bendahara Umum ketika yang lain istirahat siang, berbagi ilmu, pengalaman hidup dan juga candaan ala orang dewasa yang menurutku saat itu cukup tabu.

Februari – Desember 2004

Hari berlalu begitu cepatnya tak terasa sudah setahun bekerja disini, alhamdulillah sudah bisa menguasai pekerjaan di seksi Bendum. Sudah mulai berani memberikan teguran kepada bank-bank yang nakal, terlambat menyampaikan laporan penerimaan ataupun lalai dalam melimpahkan seluruh penerimaan ke kas negara. Sepanjang tahun 2004 menjadi titik balikku dari tragedi 2003. Perlahan tapi pasti memupuk kepercayaan diri sambil menggantungkan asa.

Tahun 2005

Alhamdulillah, Allah memberikan kesembuhan kepada kakiku. Pergelangan kaki kanan dan jari-jariku masih lumpuh tidak bisa digerakkan, ku jadikan ini sebagai pengingatku untuk selalu merendahkan hati dan lebih bersyukur atas semua nikmat yang dikaruniakan oleh Allah. Tahun 2005 tahun terakhir aku di Jember, kota dimana aku lahir dan besar. Sepanjang jalan Jawa dan Kalimantan, banyak menyisakan kenangan indah. Masih terekam jelas kala aku berlari-lari bersama kawan berebut naik bus kota di depan SMP 3, memarkir motor di halaman SMU 2 hingga berkenalan dengan aktivis-aktivis KAMMI yang sempat magang di KPKN.

Penghujung 2005 ku kepakkan sayap melintasi gunung dan samudera, hingga berlabuh di daratan Papua. Bermukim di Nabire bersama dengan pemuda-pemuda yang ceria dan penuh semangat. Segala keterbatasan dapat disulap hingga dirasa sebagai karunia. Aku tetap tersenyum meski kesedihan menggores hati, karena senyum adalah satu-satunya hiasan sederhana tuk membuat saudara kita senang.

Jadi ingin berpuisi nih :

Awan berarak bersama hembusan angin
Naungi gejolak jiwa hingga terasa dingin
Duhai pohon-pohon melambai hijau
Kau sambut hadirku bersama terik kemarau

Cucuran peluh bercampur debu
Terasa indah menghias kalbu
Kala dapat mensyukuri semua nikmat
Dan membingkai dosa dengan taubat

Dipostkan di Multiply pada 17 Mei 2007 10:45 PM