Tags


Jakarta al markazziyah, beberapa jam menjelang sahur

Kau membuat ku berantakan
Kau membuat ku tak karuan
Kau membuat ku tak berdaya
Kau menolakku acuhkan diriku

Bagaimana caranya untuk
Meruntuhkan kerasnya hatimu
Ku sadari ku tak sempurna
Ku tak seperti yang kau inginkan

Lagu diatas tampaknya menjadi favorit beberapa anak jalanan di sepanjang Garuda. Tiap kali saya singgah di salah satu warung tenda disana hampir tak terlewat mereka menyanyikan lagu tersebut. Jemari mereka dengan luwesnya menari-nari diatas dawai gitar menghasilkan melodi yang cukup melow. Disini saya tak hendak membahas lagu tersebut tetapi mereka, anak-anak usia sekolah yang seharusnya sibuk belajar dirumah yang ingin saya ketengahkan (huuu…gayanya su seperti kolumnis saja moo :p) *xixixixi sekali-kali nulis yang rada serius dong  *

International Labour Organization (ILO) pada tahun 2007 mencatat jumlah pekerja anak di Indonesia mencapai angka 2,6 juta jiwa. 0,015% dari total pekerja anak di seluruh dunia  yang jumlahnya mencapai 166 juta jiwa. Mereka tersebar dalam berbagai sektor, pertanian, pertambangan, perikanan, jalanan (pengamen, tukang semir sepatu, pedagang asongan, pemulung dan pengemis) dan yang lebih memprihatinkan dipekerjakan sebagai kurir narkoba dan pelacur.

Mei silam diatas bis bandara yang melaju kencang disekitaran tanah abang.Tepat dibawah lampu merah dua orang gadis cilik yang usianya tiga sampai empat tahunan berlari dari mobil satu ke mobil lainnya di bawah guyuran hujan hanya untuk beberapa keping rupiah. Saya jadi terhenyak tersadarkan bahwa saya berada di Ibu Kota. Tempat yang menurut sebagian orang menyimpan sejuta harapan untuk memperbaiki hidup, tempat dimana semua mudah didapati.
Sehingga ramailah urbanisasi ke kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya.

Seleksi alam yang kemudian berbicara, mereka yang mempunyai skill, kreativitas dan intelektualitas akan berjaya sementara yang hanya mempunyai modal nekat semakin terpuruk jatuh dalam kemiskinan. Hidup di kota besar dengan biaya tinggi memaksa orang tua bekerja ekstra, tak jarang anak-anak merekapun ikut ambil bagian. “Om ..buat makan om, buat makan om…” pinta seorang anjal kala itu *set dah udah jadi om-om aje gue *

Dampak dari krisis ekonomi yang menghantam Indonesia satu dasawarsa lalu, inflasi yang tinggi, melonjaknya harga minyak dunia dan kenaikan harga BBM membawa efek berantai yang membuat mendung iklim usaha. Sektor-sektor informal banyak yang kehabisan nafas untuk menjalankan usahanya. Pengurangan jumlah karyawanpun dilakukan demi menekan ongkos produksi. Gantinya mempekerjakan anak dibawah umur yang bisa diupah rendah

Kehilangan kesempatan untuk mengenyam pendidikan karena mahalnya biaya yang harus dikeluarkan juga menjadi salah satu sebab maraknya pekerja anak. Seorang bocah sempat berceloteh kepada saya di sela-sela kegiatan pasar murah korwil myQuran Jabodetabek 10 Agustus 2008 lalu “kalau saya punya seragam saya mau sekolah”, sedih mendengarnya.

Lalu apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan mereka? Sementara pemerintah bekerja keras memulihkan perekonomian, melakukan kerjasama dengan United Nation melalui ILO-nya, program PAUD (Pembinaan Anak Usia Dini), Bantuan Operasional Sekolah dan sudah mulai memaksimalkan 20% dari APBN untuk sektor pendidikan di tahun 2009 (mentang-mentang dekat pemilu, kasiiih daaahh! :p). Sedikit dari Anda amat berarti bagi mereka (kata-kata penutup para pengamen jalanan di bus kota) dengan menyisihkan sebagian penghasilan kita melaui Zakat dan Infaq. Salurkanlah kepada Lembaga-lembaga atau Yayasan yang punya kepedulian tinggi terhadap anak-anak yang kurang beruntung ini. Ada RZI (Rumah Zakat Indonesia), YDSF, dan masih banyak lagi. Jika memungkinkan jadilah orang tua asuh mereka. Dulu Pemerintah punya program yang cukup bagus GNOTA (Gerakan Nasional Orang Tua Asuh) tapi sekarang entah kemana.

Sedikit dari Anda amat berarti bagi mereka ^_^ Tenaga, waktu, pikiran atau apapun yang bisa membantu mereka lepas dari perburuhan. Bapak-bapak guru yang budiman di TPA Bantar Gebang sudah mencontohkannya, mereka rela tidak digaji untuk mengajar anak -anak para pemulung disana. Jika mereka bisa kitapun juga harus bisa insyaallah.

Tak lupa saya mengucapkan selamat menjalankan ibadah shaum Ramadhan 1429 H, semoga kita termasuk para shoimin dan shoimat yang diridhoi oleh Allah Swt aamiin.

Raga mungil itu

Terbakar legam disengat sang surya

Menggigil dingin dibasahi air mata langit

Ia, berlari kecil dari satu roda ke roda yang lain

Tari Jemarinya gemulai menyambangi dawai

Memainkan satu simphoni kehidupan

Berharap iba mereka disana

keluarkan sedikit receh penyambung hidup

Tangan-tangan mungil itu

Belum waktunya memanggul cangkul

Belum saatnya berpeluh lusuh

Biarkan mereka bermain

Mengulur benang hingga ke awan

Menggantungkan tinggi cita-cita dan harapan

Memekarkan bunga-bunga yang kelak,

Mengharum mewangi di seantero negeri

Note: gambar diambil dari

http://kotapalembang.blogspot.com/2008/05/pengamen-kecil.html

Diposkan di Multiply pada 30 Agustus 2008 9:93 PM