Tags

, ,


Sebenarnya ini adalah agenda dadakan, secara di Ancol baru diresmikan Ancol Commuter, jalur khusus untuk para biker.  Untuk yang bersepeda tiket masuknya digratiskan.    Sedikit intermezo: Malam minggu saya putuskan untuk menginap di kantor, sekalian menonton pertandingan bola dilayar kaca. Ada satu film yang menurut saya cukup menarik yg sempat saya tonton malam itu. Mr. & Mrs. Smith, mengisahkan seorang pasangan yg ternyata mereka berdua adalah agen rahasia dari dua organisasi yang berbeda. Jadilah mereka berdua saling menyembunyikan identitas aslinya. Awal mula mereka tidak saling tahu kalau ternyata si suami atau isterinya adalah sama-sama agen rahasia. Sampai akhirnya mereka mendapat misi yang sama dari masing-masing agen untuk mengamankan seorang tahanan polisi. Dan ternyata misi itu adalah misi jebakan agar nantinya mereka saling membunuh. Hal ini dikarenakan masing-masing organisasi tahu kalau mereka sebenarnya adalah pasangan suami isteri. Singkat cerita mereka akhirnya berusaha saling bunuh sampai akhirnya, perasaan cintalah yang menghapuskan semua amarah dan menyatukan mereka kembali 

Kembali ke topik,  setelah personel lengkap jam 06.30 WIB kami berangkat dari Juanda. Wah ternyata sudah lama tidak mengayuh pedal, terakhir bersepeda ketika awal-awal datang di Nabire.  Rute yang kami ambil adalah, Juanda-Gunung Sahari-Ancol-Kawasan Kota Tua-Gajah Mada-Harmoni-Bundaran HI dan kembali ke Juanda. Jalanan masih cukup sepi, maklum hari libur. Matahari juga malas untuk keluar sarang, jadi lengkap sudah cuaca mendukung untuk bersepeda. Selama ngegowes dari Juanda ke Ancol saya jadi teringat jaman-jaman SD dan SMP dulu. Sepeda adalah tunggangan wajib kemana-kemana. Rasanya seru konvoi bareng ke sekolah dengan teman-teman, pulangnya mengambil jalan alternatif melewati persawahan dan sungai. Tak jarang juga berkeliling dahulu entah kemana hingga sore. Alhasil sampai di rumah emak langsung ngomel-ngomel karena anak-anaknya tak kunjung pulang. Wekeke…Sungguh saya sangat merindukan masa-masa itu.

Masa dimana anak-anak dengan nyamannya memacu sepeda mereka di jalanan yang memang masih aman untuk para pesepeda. Ada kebanggaan tersendiri ketika melewati jalan turunan, kita langsung lepas tangan, melipat tangan di dada layaknya jagoan, hii..hii… meskipun para abang becak teriak-teriak mengingatkan bahwa aksi itu sangat berbahaya. Kita tetap cuek bebek, asoy geboy …  Sempat juga beberapa kali nyungsep ke selokan sampai berdarah-darah waktu awal-awal belajar, tapi itu tidak membuat saya kapok naik sepeda.

Ada satu kejadian lucu ketika saya masih kelas lima SD, yang sampai saat ini masih teringat. Waktu itu pulang sekolah. Saya biasa berboncengan dengan teman sebangku saya Muhammad Maulana atau bisa dipanggil One. Di belakang kami adalah siswi putri yang banyak ditaksir oleh teman-teman siswa waktu itu (termasuk kami berdua, hue hue) dia naik becak bersama teman sebangkunya juga. Karena jalan tanjakan saya mengayuh sekuat tenaga, tengsin dong kalau sampai turun dari sepeda. Apalagi di belakang ada wanita pujaan (huuu…anak ingusan sudah tahu cinta-cintaan..)  Alhasil sampai ditengah-tengah nafas saya sudah putus ga kuat lagi untuk mengayuh, jadilah sepedanya oleng dan mencium aspal. Duh malunya, diketawain pula

Nah, jika dibandingkan jaman sekarang. Jalanan di kota-kota besar sudah tidak lagi bersahabat untuk para pesepeda. Kendaraan bermotor mulai dari sepeda motor, mobil, truck, bus, bajaj dll seakan tidak mau lagi bersahabat dengan sepeda. Sudah larinya kenceng, asapnya juga minta ampun. Kondisi itu juga diperparah tidak adanya jalur khusus untuk para pesepeda di jalan-jalan protokol. Di sepanjang jalan Gunung Sahari, kali ciliwung juga ikut-ikutan menambah penderitaan, airnya yang hitam dan baunya yang menyengat cukup untuk membuat perut menjadi mual.

Saya jadi membayangkan Jakarta mencontoh Beijing yang cukup ramah dengan sepeda. Di jalan-jalannya selalu menyisakan cukup ruang untuk sepeda. Jalan-jalannya yang hijau, ditambah lagi dengan Sungai Ching Mie yang cukup bersih, selain menambah kecantikan juga menjadi alternatif untuk berwisata. Kendaraan bermotornya juga cukup tertib sehingga jarang sekali terjadi kemacetan. Meskipun orang-orangnya memiliki cukup penghasilan untuk membeli mobil, mereka lebih memilih bersepeda. Jadi tidak heran jika ada orang yang berjas lengkap mengayuh sepeda ke kantornya. Hal ini adalah pemandangan yang lumrah di Beijing. Jakarta kapan ya bisa meniru? Selain ramah lingkungan, sepeda juga sangat menyehatkan.

Mari mengayuh

Diposkan di Multiply pada 25 Oktober 2009 09:19 PM