Tags

, ,


Alhamdulillah akhirnya sampai juga di Nabire setelah lima jam berlayar dengan KM Doloronda.

Sebenarnya saya sudah menolak diajak ke Serui karena awal bulan saya harus ke Jayapura untuk berjuang mendapatkan tiket khusus D3 di Jakarta. Bujuk rayu kang Gading dengan sukses meluluhkan hati saya, “kapan lagi kita bisa ke Serui? mumpung ada kapal masuk, jarang-jarang ada moment yang pas kayak gini.” Yaah… setelah ditimbang dan dipikir-pikir lagi, kapan lagi saya bisa ke Serui? sekalian pinjam buku diklat Bendahara Pengeluaran punya Amin. Saya tak mau jika perjalanan saya ke Serui sia-sia belaka.

Kami berlima, Pak Sony (kasie Vera), Pak Armin (kasie Bendum), kang Gading, Adi dan aku sendiri. Sampai di terminal sempat bingung mau naik angkot atau carter taksi. Pak Armin mengusulkan untuk naik taksi, setelah tawar menawar yg cukup alot akhirnya sopir taksi luluh juga. Terminal Oyehe-Samabusa cukup Rp 50.000,- saja.  Ya gitu deh… karena menawarnya di bawah harga standar, jantung kami diberi latihan yang cukup berat juga. Syukur alhamdulillah masih bisa sampai di pelabuhan dengan selamat. “mbayar seket njaluk selamet”, seloroh kang Gading. saya hanya bisa tersenyum..(wuih…bener2 nih sopir! )

Tepat pukul 16.00 WIT kapal bertolak ke Serui, pulau yang tak saya sangka keindahannya begitu mempesona. Nabire-Serui ditempuh lima jam dengan Kapal Putih (istilah kapal penumpang Pelni). Di atas kapal saya sempatkan berkeliling mulai dari dok lima sampai dok tujuh. Di atas dok tujuh sejauh mata memandang yang terlihat lautan yg biru diselingi semburat jingga di ujung cakrawala. Tanda mentari mulai mengakhiri petualangannya hari ini.  Allahu Akbar…Allahu Akbar… adzan Maghrib berkumandang, menutup keasyikan kami menikmati terbenamnya matahari sore itu. Kedamaian menjalar ke seluruh tubuh ketika dapat merasakan keagungan Illahi melalui ayat-ayat kauniyah-Nya. Sebagai mahkluk tak ada yang bisa dilakukan selain bersyukur, bersyukur dan bersyukur atas semua rahmat dan kasih sayang-Nya yang tak henti-hentinya menghampiri diri.

Pk. 21.00 WIT kapal merapat di pelabuhan Serui, Mahkai Beng Fea di Arui (Selamat datang di Serui) kalimat pertama yang menyambut kedatangan kami di Serui.  Setelah menunggu beberapa menit Amin dan Tri (rekan-rekan prodip di Serui) menjemput kami berempat, oh ya.. Pak Armin langsung ke Jayapura pulang kampung.

Serui, pulau kecil di teluk Cenderawasih setelah Biak. Topografi berbukit-bukit, hijaunya hutan masih jelas terlihat. Cantik dan indah, yang membuat sedikit iri tata kota di Serui cukup baik, KPPN nya termasuk bangunan yang paling bagus di sana. Nabire agak sedikit di bawah. Tapi Nabire masih lebih rame daripada Serui, roda perekonomiannya mulai berputar kencang (he…he… tidak mau kalah). Hari pertama kami habiskan waktu ke pantai Mariadei, melihat perahu-perahu milik pemkab Yapen Waropen yang sandar. Disini tidak ada bus atau feri jadi transportasinya menggunakan speed boat atau jhonson (perahu kecil dengan motor). Oh ya KPPN Serui menangani tiga kabupaten Yapen, Waropen dan Serui sendiri. Yapen dan Waropen adalah pulau kecil disekitar Serui. Dulunya menjadi distrik dibawah Serui, namun semenjak otsus, berubah status menjadi kabupaten.

Hari kedua kami berkesempatan menikmati salah satu ciptaan-Nya yang sangat indah teman-teman menyebutnya danau, tapi lebih tepat jika disebut teluk. Teluk yang cukup cuantik. Berwarna hijau dengan perairan yang tenang. Pas sekali buat snorkeling atau main kano.

Di komplek perumahan KPPN Serui berdiri sebuah musholla hasil swadaya pegawai dan masyarakat sekitar namanya musholla An-Ni’mah. Disinilah saya berkenalan dengan Pak Iyas. Seorang mantan kafir Advent yang mendapat hidayah tahun 1980. Dorang (Beliau) asli Papua, dengan seksama saya menyimak penuturan Beliau ketika memutuskan untuk masuk Islam dan perdebatannya dengan pendeta sampai dilempar asbak.  Allah berfirman:

[2:213] Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkan itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.

 “Di dalam Islam semua diatur dengan jelas, mulai dari hal-hal yang kecil sampai masalah yang lebih besar. Kita makan saja ada aturannya.” Begitulah salah satu penuturan Beliau. Beliau juga bercerita tentang pengalaman-pengalaman rohaninya yang semakin membesarkan hatinya tuk terus berada di jalan yang lurus, jalan orang2 yang telah diberi nikmat. “Setelah pulang kantor saya biasa dirumah, tidak pernah keluar. Jika maitua (istri) suruh saya pegi pasar baru saya pegi. Selebihnya saya habiskan waktu untuk berdzikir. ” penuturan pak Iyas seolah menyadarkanku akan berapa waktu yang telah ku habiskan untuk mengingatNya, rasanya masih sedikit waktu yang kuluangkan. Terimakasih ya Allah telah mengingatkan hamba yang dzalim ini.

[94:7] Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.

Oleh-oleh yang cukup berharga dari Serui “Permata di Teluk Cenderawasih”  tak lain dan tak bukan adalah dzikrullah!!!

Jazakallah buat kang Chandra yang udah merelakan kamarnya kita acak-acak dan makanannya kita bikin ludes.

Koya Wane (Selamat Malam)

Nabire, 27 Mei 2006

Diposkan di Multiply pada 10 September 2008 10:23 PM