Tags


I’m not ready yet

Kamar berantakan, baju belum disetrika, belum packing juga, kerjaan masih numpuk..aaarrrggghhh…

Preambule sebelum berangkat ke Jayapura. Duh, serba berantakan dan tidak ada persiapan yang matang. Begitulah style ku kalau mau pergi-pergi  untunglah semua terselesaikan tepat pada waktunya. Banyak tertolong oleh jadwal kapal yang molor hingga lima jam dari jadwal semula hi..hi..hi… Bersama guyuran air hujan perlahan namun pasti mobil tua kami berlari menyusuri jalanan Nabire, berhenti sejenak di toko roti, mengambil titipan barang di Sanoba, berlanjut menembus gelap malam menuju pelabuhan di Samabusa. Ocehan para sahabat di jok belakang cukup ampuh mengusir rasa kantuk yang sedari Isya bernaung di kepala. Pipit dan Adi mulai dari rumah hingga pelabuhan tiada hentinya berkicau kesana-kemari *burung kali berkicau*

Jam sembilan kurang kami tiba di pelabuhan. Seperti biasa,jika ada kapal sandar, pelabuhan senantiasa ramai. Mobil-mobil berderet rapi di area parkir yang hampir penuh, hujan masih menyisakan tetesan-tetesan terakhirnya untuk ditumpahkan. Hampir satu jam menunggu  akhirnya berlabuh juga KM Labobar yang siap membawa kami ke Jayapura. Tidak sabar rasanya untuk segera naik dan merebahkan kepala yang sudah terasa berat, sejak dua hari yang lalu lebih banyak begadang, kembali menjadi Qalongers

Dengan berdesak-desakan akhirnya sampai juga di dalam, hembusan angin yang keluar dari pendingin ruangan di langit-langit kapal sedikit memberikan kenyamanan dalam diri yang sudah kegerahan sejak di tangga bawah. Alhamdulillah akhirnya bisa menyandarkan punggung diatas kasur, tak disangka dapat tempat yang persis sama setahun yang lalu. Ketika itu kami bertiga (Adi, mike dan aku sendiri) mendapatkan tempat di pojok kanan dekat kamar mandi, dan kini terulang kembali mendapat tempat yang sama, di kapal yang sama dan dengan tujuan yang sama pula mengikuti USM D3 Khusus dan D4 Akuntansi di Jayapura bedanya kali ini aku ditemani Kang Ganda dan Zamrud, masyaallah.

Pesta Kecil di Atas Kapal

Akhirnya terjawab juga rasa penasaran yang sedari tadi menggelayut difikiran, kenapa tiba-tiba berhenti di toko roti cukup lama. Ternyata Adi milad, semoga lebih dewasa na   Black Forest yang dihias rapi langsung tak berbentuk dalam hitungan menit. Maklum selama disini kita jarang makan yang beginian Rupanya salah seorang ibu di seberang kami juga tergoda dengan cake yang kita basmi, senyum merekah ketika salah seorang sahabat menawarkannya kepada beliau sembari mengucapkan selamat milad kepada Adi.

Jayapura Panasnya Mana Tahan

Setelah sehari semalam berlayar akhirnya sampai juga di pelabuhan Jayapura. Seperti biasa, kota ini senantiasa mempesona di malam hari, kelap kelip lampu mulai dari bawah hingga ke atas seakan tak mau kalah dengan kota-kota besar lainnya di wilayah barat. Berdua dengan Zam kami meluncur ke penginapan yang sudah dipesan sehari sebelumnya. Letaknya cukup strategis berada di pusat kota dan dekat dengan Masjid Agung, salah satu alasan mengapa kami lebih rela mengeluarkan anggaran lebih ketimbang berdesak-desakan di mess Angkasapura yang letaknya cukup jauh berada di puncak.

Musim ujian begini alumnus STAN (Pajak, Bea Cukai, Perbendaharaan, dan Piutang Lelang) se Papua akan tumplek blek di Jayapura bersaing memperebutkan tiket melanjutkan study ke Jawa. Entah dari Beasiswa S1, S2 ataupun program D3 dan D4. Maklumlah disini tidak banyak di temui Universitas atau Perguruan Tinggi yang terakreditasi layaknya di Jawa. Disamping biaya pendidikan yang super duper mahal ijazah yang didapat juga belum tentu disetujui untuk mengikuti UPKP karena terganjal masalah akreditasi tadi, hiks nasib di daerah tertinggal euy…

Ada waktu lima hari untuk fokus pada materi yang akan diujikan, tapi dasar dudut bukannya belajar malah lebih banyak keluyuran berpanas-panas diluar dan tiduran di kamar Sempat kehilangan konsentrasi tetapi syukurlah bisa kembali fokus disaat yang tepat. Tibalah masanya ujian, bismillahirrahamaanirrahiim… ku selaraskan soal-soal ujian dengan memori yang ada di otakku. 150 menit berlalu dengan cepatnya, setelah dihitung ulang 80% soal berhasil diselesaikan sisanya terlewat begitu saja yang penting sudah berikhtiar kalau lulus itu adalah bonus jika gagal? selama hayat dikandung badan coba lagi dilain waktu dan kesempatan

Ternyata oh ternyata, perjuangan masih belum berakhir. Kuterima pesan singkat untuk tetap tinggal di Jayapura, lusa ada seleksi tahap II untuk Kantor Percontohan mana belum ada persiapan sama sekali Syukurlah Molen dan Zam memberikan gambaran bagaimana tes nanti dan apa-apa yang harus dipelajari ^_^  sedikit meringankan beban mental. Tes kedua pun usai dijalani sempat tidak konsen di sesi terakhir, selebihnya berhasil dikerjakan dengan baik kembali “lulus adalah bonus” yang penting telah berusaha semaksimal mungkin.

Tak terasa telah lewat sepekan berkelana di Jayapura, tak lupa singgah di Gramedia membeli beberapa buku dan berburu koteka bersama para sahabat dari Serui di Pasar Seni Hamadi.  Harganya lumayan murah dibanding art shops  di Biak ataupun Nabire. Ada telur kasuari, taring babi hutan, patung, ukir-ukiran asmat, noken, miniatur honay dari tembikar, dan lukisan dari kulit kayu. Dari Hamadi lanjut ke Abepura, setelah itu balik ke kandang masing-masing bersiap untuk berlayar kembali ke habitat masing-masing besok malam.

Dipostkan di Multiply pada 30 Juni 2007 08:05 AM