Tags

,


Siapa yang menyangka akhirnya saya berlabuh di kota Nabire? Kota pantai yang sedang menunjukkan geliatnya setelah diguncang gempa bumi Februari silam. Ketika sedang memisahkan SSP (surat setoran pajak) ada info bahwa SK Mutasi sudah keluar. Di kabari dimutasi ke Nabire tubuh rasanya lemas sekali. Antara percaya dan tidak. Saat itu yang terbayang saya akan disuguhi kehidupan yang keras di bumi Papua. Terlebih lagi tanpa satupun teman satu almamater yang menemani disana dan saya baru bisa berjalan tanpa memakai krug.

Sholat tarawih sudah tidak khusyuk lagi. pikiran saya terus membayangkan seperti apa Papua? Apakah saya masih bisa sholat berjamaah seperti saat ini? Apakah saya masih bisa ifthar bareng dengan saudara-saudara saya? berdiskusi saling bertukar ilmu dan pengalaman?

Rasanya hari begitu cepat berlalu, sampai akhirnya tanggal 17 November 2005 saya harus terbang ke Papua. Alhamdulillah saya berhasil menghubungi rekan dari KPPN Jakarta II yang sama-sama dimutasi ke Nabire jadi bisa berangkat bersama. Bersyukur sekali ada temen mengobrol di pesawat (apalagi ini penerbangan perdana), perjalanan selama kurang lebih 5 jam jadi terasa singkat.

Hari Jumat tanggal 18 November jam 9.30 wit kami tiba di Bandara Nabire. Biak-Nabire memakan waktu 1 jam (pake pesawat twin otter) jika cuaca sedang bagus. Dari atas pesawat pemandangan Papua subhanallah indah sekali. Keindahan pulau Bali menurut saya masih kalah 5 tingkat dari Papua.

Pertama menginjakkan kaki di Nabire rasanya seperti berada di desa, masih terlihat reruntuhan bekas gempa. Beberapa kantor, masjid, gereja dan rumah sakit menunggu bantuan dana dari pemerintah pusat untuk diperbaiki. Entah mengapa DIPA (daftar isian pelaksanaan anggaran) untuk bantuan bencana alam akibat gempa bumi senilai Rp 105.000.000.000,- terlambat diturunkan. Menurut rekan-rekan saya, DIPA baru turun bulan Oktober 2005, padahal masa berlaku DIPA hanya satu tahun anggaran. Alhamdulillah ada kebijakan dari pemerintah pusat bahwa dana yang tidak habis digunakan bisa dipakai kembali tahun anggaran berikutnya.

Tutup tahun anggaran adalah masa-masa yang super sibuk buat Ditjen Perbendaharaan termasuk KPPN sebagai instansi vertikal Kanwil Ditjen PBN. Kami harus menyelesaikan laporan kas posisi dan mengirimkan ke kantor pusat termasuk membuat revisi jika terdapat selisih dengan  kantor pusat.

Nabire…

disini saya bisa merasakan bulan Desember sebagai bulan yang sangat disucikan bagi umat nasrani. Hampir setiap hari lagu-lagu rohani berkumandang. Bahkan ada yang memasang sound system di atas bukit belakang kantor. Oh ya, penduduk asli sini cukup ramah, tapi jangan sekali-kali menyulut api permusuhan dengan mereka bisa runyam akibatnya. Kasus di Waghete bisa menjadi rujukan, pos polisi dibakar dan satu-satunya jalan darat yang menghubungkan Enarotali dan Waghete diputus. Semua akibat kasus penembakan terhadap penduduk sipil yang dilakukan oleh aparat. Rentan sekali terjadi chaos, makanya seorang teman di Biak mengingatkan “jangan sampai buat masalah dengan orang-orang asli bisa-bisaorang-orang yang berambut lurus bisa diusir dari Papua. Sebisa mungkin kita menahan diri walaupun kita merasa benar.”

[47:7] Hai orang-orang mu’min, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.

Koya abata (selamat pagi)

Nabire, 5 Februari 2006

Sempat dipos di Friendster kemudian dipos ulang di Multiply pada 10 September 2008 10:17 PM