Tags

,


Yoi itulah tema yang ingin saya angkat dalam tulisan kali ini. Tentang kehidupan malam dan juga para aktifisnya. Sudah beberapa bulan ini saya kembali menjadi kalonger, sebenarnya agak kurang pas juga disebut kalonger, karena siangnya saya masih suka pecicilan dan mondar-mandir ke depan ke belakang seperti setrikaan.

Mengapa harus mondar-mandir ke depan dan ke belakang? Karena saya dengan sangat terpaksa mengambil alih tugas teman di Front Office yang kebetulan cuti walimahan sekaligus mau berbulan madu. Sebenernya saya sempat gondok sama si bos yang ngasih ijin cuti tidak kira-kira satu setengah bulan. Wedew, dengan kondisi mendekati akhir tahun dan personel yang amat sangat terbatas pemberian cuti alasan penting selama itu sungguh amat tidak berperasaan. “Enak di dia mampus di gue”, (Eit dah ini ngiri atau apa? Makanya buruaannnnn :-P) Peace ya Uda, si Dave mah cuma ngiri aja.  Sirik tanda tak mampu

Jadinya sodara-sodara pekerjaan saya digeser dari sore sampai malam. Trus dapat tambahan pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum atasan langsung alih tugas ke Larantuka, masih belum selesai nambah lagi acara pembinaan dari Kantor Wilayah, gleks. Jadilah camping di kantor dua mingguan. Naseeb…naseeb… tapi ada hikmahnya juga, berkas-berkas yang semula tumpuk acak adut jadi rapi jaly. Semua terodner dengan rapi, dan hasil pembinaannyapun tidak menemukan hal-hal yang perlu untuk dibina

Balik pada malam hari, kalau saya sedang rada ga jelas (baca suntuk) biasanya saya akan bermotor ria menyusuri jalanan tanpa tujuan yang pasti. Entah itu di Papua atau di Jakarta sama saja. Tapi rasanya volume ke tidak jelasan itu meningkat pesat setelah saya tiba di Jakarta, tanya kenapa? Nah dari keliling-keliling itulah saya juga menemukan kawan-kawan yang tidak jelas. Mulai dari penjual vcd ga jelas di sepanjang jalan Gajah Mada sampai Glodok, Orang-orang yang senang tidur di alam terbuka, sampai ke mba-mba dan budhe-budhe yang bajunya super duper irit dibeberapa sudut jalan remang-remang di Ibu Kota, swit..swit..!!!

Awal-awal datang saya kurang begitu ngeh dengan penjual vcd-vcd ini, dalam hati ini kok yang dipajang film jadul semua. Eh … setelah turun dan lihat-lihat, si abangnya langsung nyahut yang full atau semi mas? Haiyah, ternyata yang di jual adalah film-film porno. Kalau satu atau dua orang yang menjual mungkin wajar ya, bisa main kucing-kucingan dengan aparat. Tapi ini sudah terang-terangan berderet panjang sampai ke belakang. Seperti sudah di legalisasi saja, tanya kenapa?

Kawan saya yang kedua adalah para gelandangan alias tuna wisma. Entah memang sudah tidak punya rumah karena korban penggusuran, terkena musibah atau karena kenekatan mereka datang ke Ibu Kota tanpa memiliki bekal yang cukup sehingga akhirnya hukum rimba yang menentukan. Yang kuatlah yang akan menang. Mereka terpaksa atau ada kemungkinan senang hati? Tidur di kolong jembatan, emperan toko dan trotoar. Ada pula yang masih kreatif memanfaatkan anak-anak kecil untuk memancing belas kasihan orang lain. Ironis memang, ketika gedung-gedung bertingkat berlomba-lomba saling tinggi dan saling megah. Berebut prestise untuk mengokohkan hegemoni kaum berduit atas mereka yang tidak berpunya, para tuna wisma itu hanya bisa menatap langit dan bintang-bintang yang selama ini setia memayungi mereka. Kembali tanya kenapa?

Kawan saya yang ketiga adalah mba-mba yang cukup irit dalam berbusana. Orang-orang ada yang menyebut lonte, pelacur, bahasa media memperhalus dengan istilah Pekerja Seks Komersial, dan dalam gaya bahasa metonimia dikenal dengan si Kupu-kupu Malam. Mulai dari kelas emak-emak sampai kelas ABG semua sudah pernah saya jumpai. Waktu awal Ramadhan sempat menghilang eh kok dua tiga hari sudah bermunculan kembali. Entahlah sebenarnya apa yang mereka cari sampai harus merendahkan diri seperti itu, sudah tidak adakah pekerjaan yang lebih bersih tinimbang harus membahayakan diri dunia dan akhirat? Tanya kenapa?

Dari ketiga kawan tersebut kawan saya yang ke empat inilah yang patut diberi apresiasi tinggi. Mereka adalah petugas kebersihan dan pertamanan. Yup, biasanya pada jam-jam malamlah mereka mulai beraksi. Menyirami jalur hijau dari truk tangki yang berisi air, (ya iyalah masa mau disiram pake bensin :P) menyegarkan kembali rumput-rumput dan pepohonan yang seharian sesak nafas karena penuh menghirup polutan dari mana-mana.

Jakarta, baik siang ataupun malamnya emang ga ada matinya. Tapi mengapa hampir semua yang negatif itu muncul di malam hari, coba tanya kenapa?

Diposkan di Multiply pada 26 Oktober 2009 10:36 PM