Tags


Bulan Oktober ini bisa dibilang sebagai bulan jalan-jalan bagi saya. Bagaimana tidak diawal bulan saya mengekor beberapa teman yang mendapat undangan walimah di Jogja. Kebetulan juga rumah my partner in crime , Afiat berada di Jogja. Jadilah menghemat ongkos di penginapan dan konsumsi hue hue … Doi memang teman sejati dalam urusan bermalam di kantor sampai acara detektip-detektipan untuk mengungkap satu kasus yang membuat saya geleng-geleng kepala tak percaya beberapa bulan belakangan.

Pekan kedua kembali kami touring ke Sukabumi ke rumah mas Sapto yang baru dianugerahi seorang puteri. Pekan ke tiga berlayar ke Lampung ke tempat kak Ade yang melepas status jomblonya. Sayangnya beberapa gambar yang sempat saya jepret mulai dari Borobudur sampai Lampung lenyap tak berbekas lantaran kompi yang rusak, hiks.

Dan saat ini saya kembali singgah di Jogja untuk menghadiri walimahannya mas Syamsul Arifin yang insyaallah dihelat besok. Tiba menjelang Ashar di Jogja cuaca masih lumayan panas. Sambil menunggu Afiat, saya menghabiskan teh botol dan iseng coba mempraktekkan kemampuan berbahasa Jawa yang halus dan benar. Halah..halah…ternyata masih gelagapan juga ya. 15 menit berselang si ojeker datang juga akhirnya. Kami keliling sebentar di Malioboro yg belum begitu ramai, pasar Bering Hardjo dan kemudian meluncur ke rumah Afiat.

Selepas makan malam, doi mengajak keliling beberapa kampus yang ada di Jogja, siapa tahu suatu saat saya mutasi kesini dan belum sempat merampungkan studi jadi sudah ada beberapa referensi universitas. Tapi tampaknya tidak terlalu sulit mencari kampus di sini secara julukannya kan kota pelajar. Mulai dari UPN, Atma Jaya, UNY,UGM dan beberapa yang lain. Sepanjang jalan warung-warung tenda dan cafe-cafe yg berderet rapi, tampak ramai penuh dengan anak-anak muda yang sedang menikmati akhir pekan. Beberapa diantaranya menyediakan hot spot bagi yang suka berselancar.

Setelah saya mengamati beberapa warung yang penuh dengan pengunjung, ternyata mereka punya strategi sendiri untuk menjaring pelanggannya. Dan itu memang suatu keharusan jika usahanya tidak ingin terkapar. Mengingat banyaknya pesaing yang ada, jika kelasnya hanya biasa-biasa saja alias eS Te De tentunya konsumen lebih memilih produk yang punya nilai lebih dibanding yg biasa tadi. Misalnya dari segi service, price, quality atau uniqueness. (Set dah!! lagaknya sudah seperti dosen manajemen saja :p) Sebagai contoh ada satu warung yang diberi nama Warung Ayam Kampus! glegs. (Wedew warung maksiat dong…) eit jangan salah, setelah di dekati lagi ternyata ada tulisan “deket” yg sengaja disamarkan untuk membuat orang penasaran. Jadi sebenernya Warung Ayam deket Kampus, ada-ada saja idenya. Contoh lainnya adalah warung tempe penyet Podo Moro di dekat Alun-alun Selatan. Warungnya tampak sangat sederhana, tapi jangan tanya yang makan disitu, ramai sodara-sodara. Pasti ada yang membuat beda dengan warung yang lainnya sehingga para pengunjung sampai rela antri menunggu pesanan.

Mau contoh yang lain? Kali ini dari para produsen bakpia, salah satu jajanan favorit saya selain sagu bakar gula merah khas Papua. Dapat bocoran dari Afi untuk membeli bakpia dengan harga murah. Jika ingin berhemat lebih baik datang sendiri saja, tidak usah memakai jasa antar seperti tukang becak ataupun ojek. Dan jika sudah sampai di tokonya cukup bilang kasih HP (harga pelanggan) ya? Si mba-mba penjaga tokonya pun langsung menurunkan harga antara Rp 2.000,- sampai Rp 3.000,- per kotak. Lumayan bukan? Nah, kalau menggunakan jasa antar, selisih harga tadi akan menjadi milik tukang becak atau ojek yang mengantar kita. Strategi pemasaran yang mendapatkan dua jempol dari saya. Dengan memberikan upah bagi mereka yang berhasil membuat konsumen membeli produk mereka mau tidak mau para tukang becak atau ojek tadi berlomba-lomba mengajak konsumen ke tempat si produsen tadi.

Setelah membungkus beberapa kotak, kami ngankring di Alun-alun Selatan. Menikmati wedang ronde dan beberapa tusuk tempura, sambil mengamati beberapa orang yang mencoba peruntungannya melintas diantara dua beringin di tengah alun-alun. Beberapa yang lain asyik bersepeda tandem.( Yang bening-bening ada ga?) Banyak sampai puyeng saya melihatnya. Haduh … tidfak di Jakarta tidak di Jogja ternyata sama saja. Kami sempat mengobrol juga tentang betapa bebasnya pergaulan anak muda di Jogja sekarang, cukup memprihatinkan. Dan masalah itu tidak hanya milik Jogja seorang, kota-kota besar lainnya seperti Surabaya, Bandung bahkan sampai ke Jayapura sana menghadapi problem yang sama.

Balik ke Jogja lagi, selain kota pelajar kota ini juga lekat dengan kebudayaan dan keseniannya. Dari dua kali kunjungan ke sini selalu saja ada pentas musik ataupun pertunjukan kesenian yang lain seperti pembacaan puisi, grup musik gamelan dan angklung juga atraksi kuda lumping. Bangunan-bangunan berserjerahnya pun banyak dan bagus-bagus seperti Benteng Vrederburg, museum dan lingkungan keraton masih terawat dengan baik. Beda sekali dengan kawasan kota tua yang beberapa bangunannya sudah rusak tak terawat. Jalan-jalannya pun juga lekat dengan nilai budaya. Disamping menggunakan tulisan latin, tulisan jawanyapun tak mau ketinggalan. Sayang saya sudah lama tidak ber hanacaraka sehingga kemampuan untuk menulis dan membaca dengan bahasa Jawa kuno hilang begitu saja. Padahal waktu SD ini termasuk pelajaran kesukaan saya.

Dibanding Jakarta jalanan Jogja tergolong kecil, tapi tidak sepadat Jakarta. Malam Minggu pun masih bisa leluasa memacu motor. Volume mobil dan sepeda motor masih lebih banyak sepeda motor. Para goweser juga cukup dimanjakan karena tersedia jalur khusus untuk mereka. Rambu-rambu penunjuk jalur alternatif bagi pengguna sepeda juga tak ketinggalan dipasang di beberapa sudut. Urusan kuliner? Ho ..ho.. disinilah tempatnya, harganyapun juga tidak mahal. Dengan porsi yang cukup nampol rasanya Jogja adalah surganya bagi penggila kuliner. Tadi saya sempat melintas di warung yang menu utamanya adalah bebek bethuthu. Makanan khas dari pulau Dewata. Sudah lama saya ingin mencicipi makanan ini tapi berhubung sudah makan jadi terlewat begitu saja

Begitulah sedikit pengalaman saya di Jogja, semoga benar-benar berkesempatan tugas di kota ini. Saya sungguh menyukai kota ini. Sahabat punya pengalaman menarik di Jogja? Silahkan dibagikan …

Diposkan di Multiply pada 31 Oktober 2009 10:29 PM