Tags


Saya mencoba untuk mengingat kembali pekan terakhir di Jayapura. Wajah-wajah khas  melanesia dengan senyumnya yang lebar kini akan sangat sulit untuk dijumpai. Bahasa slank indo-papua yang sudah mulai menyatu dengan dirik saya mungkin akan segera berganti dengan lu guenya abang none Jakarta. Tiga puluh bulan di Irian rasanya begitu singkat.Belum sempat menikmati senja di teluk Yotefa dan mendaki lembah Baliem di Wamena SK mutasi ke Jakarta keburu datang.

19 Mei 2008 saya berangkat paling akhir meninggalkan Jayapura sedangkan teman-teman yang lain sudah bertolak sejak minggu lalu. Dari Jayapura ke Manokwari, kemudian singgah di Hasanuddin dan terakhir mendarat di Soekarno-Hatta. Sempat mengabadikan tarian adat untuk menyambut kedatangan pangdam Manokwari yang baru. Lebih dari cukup untuk menjadi oleh-oleh yang keren dari Manokwari.

Akhirnya setelah 2,5 tahun bertapa, turun gunung dan kemudian memasuki rimba yang lebih ganas “Jakarta”. Tak akan pernah habis jika membayangkan keruwetannya, macet disana-sini, asap kendaraan yang menyesakkan dada dan membuat mata pedih, gedung-gedung bertingkat, komunitasnya yang majemuk dan lain-lain dan sebagainya. Like or dislike you are at the capital city right now! Face it and enjoy it!

Bener-bener jomplang rasanya jika dibandingkan dengan Papua (padahal Papua sungguh kaya). Barisan beton di Jakarta dibandingkan dengan pepohonan di Papua. Ah, tak adil rasanya jika membanding-bandingkan, toh masing-masing punya keunikan sendiri yang tidak akan pernah mungkin disamai dengan yang lain, rait? Di Jayapura begitu nyamannya ketika pulang kerja diguyur dengan dinginnya air pegunungan, dingin sejuk dan masih alami. Kontras dengan air Jakarta yang sudah bau obat Di Jakarta setiap informasi begitu cepatnya merambat dan berubah, berbeda halnya dengan Jayapura yang terkesan begitu lambat dan monoton. Bekerja disini amat sangat menguras tenaga juga pikiran, Dengan beban kerja yang tiga kali lipat dari Jayapura, satuan kerjanya juga pinter-pinter dan kadang cenderung aneh-aneh. Beda sekali dengan di Jayapura yang meski kelihatan sangar tapi lebih nrimo.

Kini setelah sebulan saya mulai terbiasa dengan “keanehan-keanehan” ibukota, layaknya orang gunung yang baru turun ke kota. Plonga-plongo  terbengong-bengong memandangi habitat baru yang benar-benar berbeda. Dan kini aku sudah mulai terbiasa menyelinap diantara bus dan mobil-mobil, mengendarai motor diatas trotoar (sesekali aja ini mah), berdesakan sambil bergelantungan dari atas busway yang satu ke busway yang lain serta mengakrabi gas buang kendaraan bermotor yang cukup menyiksa pernafasan. Jakarta, I’m here!!!

Jakarta, ijinkan sejenak ku merebahkan diri
diatap langitmu merajut mimpi
bersama mentari dikala siang
bertemankan rembulan dan bintang dikala petang

Jakarta, kini jaring laba-laba telah patah satu-satu
digantikan sarang ulat yang kan menjadi kupu-kupu
entah apakah bersayap indah sewarna pelangi
atau semuram wajah yang ditinggal mati?

Jakarta, dalam denyut nadi dan lorong-lorong jalanmu
kan terjawab segala tanya dan semua ragu

*ga jelas*

Diposkan di Multiply pada 21 Juni 2005 05:50 AM