Tags

,


Middle Office, ditemani derak printer dan dingin malam

Langit masih merona merah menyambut kemunculan mentari sebentar lagi. Sisa-sisa Subuh masih terasa dingin seolah menyunsum tulang membekukan pipa-pipa kapiler darah. Brrr..saya dan Arif duduk mesra di lorong GKN, menunggu mobil jemputan yang akan mengantar Arif dan mas Wuri ke Makassar untuk mengikuti acara sosialisasi Bagan Akuntansi Standar Senin depan. Setengah jam kemudian mobil yang ditunggu sampai, setelah melambaikan tangan saya bergegas melajukan motor ke barat. Menyusuri jalan protokol untuk kembali ke kedalaman kamar saya yang hangat, he..he..(melanjutkan tidur ceritanya).

Jam sembilan lewat, niat hati ingin segera menyelesaikan beberapa konsep yang tersisa di meja kerja kemarin. Tapi saya urungkan, jiwa petualang saya mengatakan “hari ini enaknya  jalan-jalan, lupakan sejenak segala aktifitas yang menjemukan!” Hua..ha..ha.. okelah saya membelokkan motor dan melesat ke arah Sentani. Tujuan utama saya kali ini adalah kampus UNCEN (Universitas Negeri Cenderawasih) di Waena, saya penasaran dengan lingkungan kampus negeri satu-satunya di Jayapura ini.

Jalan antara Jayapura dan Waena medannya menanjak, menurun dan kadang berliku. Seru rasanya memacu motor dan menikung ala Valentino Rossi (halah..guayamu :p) Sesampainya di Skyland saya menepikan motor untuk menikmati Teluk Yotefa. Biasanya banyak sekali penjual kelapa yang mangkal disini entah kenapa pagi ini tak satupun saya jumpai. Mungkin mereka sudah alergi dengan petugas trantib yang mulai galak dengan bangunan-bangunan liar.

Teluk Yotefa paling enak dinikmati kala senja, begitu tenang dan damai. Cocok sekali untuk menyegarkan diri dari semua kepenatan yang bertumpuk-tumpuk. Lebih nikmat lagi jika ditemani es kelapa yang dihargai Rp 5.000,- segelasnya.  Puas mengambil beberapa gambar, saya kembali melanjutkan perjalanan ke Waena. Dipersimpangan ke arah Arso saya mengambil jalan ke kanan, menuruni lembah ke arah Abepura. Abepura tampak lebih ramai daripada Jayapura, ruko-ruko mulai menjamur di kiri-kanan jalan. Saga Mall (mall ke dua terbesar di Jayapura setelah Sentani City Square) mulai ramai dikunjungi masyarakat yang hendak berbelanja atau sekedar jalan-jalan. Kampus UNCEN Waena masih sekitar sepuluh menit lagi dari Abepura. Gedung FISIP, Perpustakaan Pusat dan Gedung Pasca Sarjana saya kelilingi tak sampai sepuluh menit. Beberapa mahasiswa dan mahasiswi berjalan beriringan menuju asrama masing-masing setelah menyelesaikan ibadah Minggu mereka.

Setelah berputar-putarsaya jadi bingung mau kemana lagi, masih jam sepuluh terlalu pagi untuk kembali ke Jayapura. Ah, mengikuti kata hati saja pikir saya siang tadi. Ketika melewati markas Zeni Tempur Kodam Trikora saya melambatkan laju kendaraan, beberapa peralatan tempur seperti tank dan meriam menghias taman di pinggir jalan. Berpadu cantik dengan rerumputan yang terawat rapi. Melewati daerah Padang Bulan saya jadi teringat dengan janji saya  kepada Oryza (sahabat myQers) untuk membawakan Zodia asli Papua, “afwan Ory, masih belum bisa dipenuhi, next trip insyaallah.”

Di persimpangan jalan ke arah Sentani saya mengambil jalan ke kiri, tidak tahu juga nama daerahnya asal belok saja.  Setelah beberapa ratus meter ada papan yang bertuliskan  “Kampung Yoka.” Permukaan yang beraspal bagus memudahkan roda motor saya menyusuri meter demi meter jalan di kampung itu. Di kiri-kanan nampak beberapa rumah panggung khas papua, beberapa anjing dan babi tidak ketinggalan menyambut kedatangan saya. Kalau melihat babi melintas rasanya bagaimana gitu, ada geli campur jijay. Jadi teringat pesan mama Ance waktu di Nabire, “De, hati-hati kalau naik motor. Jangan sampai ko tabrak anjing atau orang pu babi” gleks! Kalau kita sampai menabrak hewan-hewan itu orang sini tidak akan tanggung-tanggung meminta ganti rugi , bisa berjuta-juta. Sampai jumlah anak dan punting susu yang belum munculpun diperhitungkan ck..ck..ck..

Setelah melewati kampung Yoka akhirnya saya disuguhi panorama danau Sentani. Danau ini sungguh menarik karena masih alami. Danau Sentani berada di wilayah kabupaten Jayapura. Danau ini luasnya 9.360 hektar berada di ketinggian 75 meter diatas permukaan laut. Tambahan ornamen pulau-pulau kecil di sekeliling danau, semakin menambah daya pikatnya. Subhanallah, saya jadi merasa bagai atom di jagat raya. Begitu kecil rasanya jika dibandingkan dengan seluruh ciptaan Allah yang terhampar di bumi ini. Maka layakkah kesombongan bersemayam di dalam hati?

Puas mengabadikan keindahan danau Sentani saya segera melanjutkan perjalananan, beberapa menit kemudian saya berpapasan dengan seorang lelaki tua tampaknya dia membutuhkan tumpangan mengingat tidak ada angkutan ataupun ojek yang melintas sepanjang jalan itu. Aku tersenyum dan melambaikan tanganku memberi tanda kepadanya bahwa aku tidak searah dengannya, dia tersenyum lepas. Saya kembali melanjutkan perjalanan. Tak sampai lima ratus meter saya berhenti dan memutar haluan, “kasihan juga bapak itu”, saya berkata dalam hati. Segera saya kejar dia dan saya tawari untuk menumpang. “Terima kasih cu”, sahut bapak tua itu. Wah saya dipanggil cucu, kekekeke… Di atas motor kamipun berkenalan singkat, saya sampaikan kekaguman saya akan keindahan danau Sentani ini. Dia pun tersenyum dan menceritakan sedikit kisah hidupnya. Opa Amos namanya, itu adalah nama kecilnya sedangkan nama marganya saya lupa. Tadi dia mengantarkan obat kepada salah satu jemaat gerejanya yang sedang sakit. Jauh sekali, sementara angkutan pun jarang bahkan bisa dibilang tidak ada mengingat sepanjang jalan hanya satu motor, mobil dan truk yang mendahului saya.

Semasa pendudukan Belanda Opa Amos berkerja di instansi keuangan (“wah sama nih,” saya membatin). Sehari-hari semua pekerja diwajibkan berbahasa Belanda, wow, saya tergoda untuk mengetes kemampuan Opa. Opa tertawa dan mengucapkan beberapa kalimat dalam bahasa Belanda yang tidak ku mengerti sama sekali ha..ha.. Hebat Opa! “sekarang saya sudah tidak pernah lagi menggunakan bahasa Belanda, tidak ada yang mengerti” timpal Opa Amos setelah itu. Saya tersenyum dan kagum kepadanya. Tak lupa opa juga menunjukkan rumahnya di seberang danau dan mempersilahkan saya membawa keluarga atau teman untuk mandi di tanjung, memancing dan membakar ikan. “Saya masih bujang Opa!” dengan sedikit berteriak menyaingi derum mesin yang agak kasar. “Bawa cewe tooh!” Opa cepat menyahut, ha..ha.. saya hanya tergelak. Tak terasa sampai juga di tikungan awal tadi, ternyata Opa ingin ke Padang Bulan, mengunjungi anaknya disana. Sekalian saja saya antar karena memang jalannya searah. Sampai ditempat tujuan tak lupa Opa mengucapkan terimakasih dan mendoakan keselamatan saya, “Semoga selamat sampai tujuan dan Tuhan Memberkati!” Kata-kata terakhir Opa melepas kepergian saya.

Hari ini puas sekali rasanya, setelah teluk Yotefa, kampung Yoka dengan danau Sentaninya yang secara “tak sengaja” saya lalui dan juga Opa Amos yang menjadi pemandu dadakan saya melengkapi hari yang indah ini. Setengah jam menjelang Duhur perjalanan saya berakhir di warung Makassar di perempatan Sagu Indah Plaza. Semangkuk es teler begitu nikmat tatkala mengaliri kerongkongan yang sedari tadi terasa kering. Wonderful! Danke Opa!

Diposkan di Multiply pada 24 Februari 2008 06:59 PM