Tags


Gambar diambil dari google.

Sejenak, saya terhenyak dengan syair lagu yang didendangkan dua orang remaja di depan saya. Inti syairnya adalah mereka sebenarnya tidak ingin menghabiskan waktu di jalanan. Mereka juga ingin hidup layak seperti orang kebanyakan. Mereka ingin bersekolah seperti teman-teman seusia mereka pada umumnya, namun kondisi ekonomi jualah yang memaksa mereka untuk putus sekolah dan harus menghabiskan waktu di jalanan dengan mengamen.

Dulu, semasa tinggal bersama orang tua saya kurang begitu peka dengan kondisi masyarakat disekitar saya. Tetapi setelah hidup merantau ke Papua hingga Jakarta kepekaan saya mulai terasah. Saya mulai belajar bagaimana hidup itu sebenarnya, untuk apa kita hidup dan kemanakah tujuan akhirnya kelak.

Dalam perjalanannya, tidak semua bahkan mungkin tidak ada manusia yang disuguhi medan yang sempurna. Ada kalanya medan terjal menghadang dan ada gilirannya kita disuguhi jalanan yang berliku. Itulah kehidupan, setiap jalannya adalah ujian iman. Tinggal bagaimana usaha kita untuk melaluinya, biasanya jalan yang lurus punya banyak konsekuensi dan cenderung lambat. Ada begitu banyak rambu yang harus dipatuhi dan tidak boleh dilanggar. Jalan pintas dengan mengabaikan rambu-rambu, memang cepat tapi belum tentu sampai dengan selamat.

Kembali kepada dua remaja tadi, syair yang mereka nyanyikan telah mengingatkan saya akan satu hal. “Syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah.” Sesulit apapun keadaan, jangan pernah menyerah dan berputus asa. Banyak jalan alternatif yang mungkin tidak seperti yang kita harapkan akan tetapi jalan itulah yang terbaik yang Allah tunjukkan kepada kita.

Tetap semangat dan harus tetap optimis.
Salam…

Ditulis diatas bus, dalam perjalanan menuju Sekolah Kebun Cukanggalih.