Tags


Di sela istirahat siang, saya sempatkan untuk singgah di penjual gado-gado yang sehari-hari mangkal di dekat pintu keluar gedung. Entah kenapa saat itu saya begitu ingin makan gado-gado.πŸ˜€ Satu suap, dua suap, tiga suap dan kemudian pikiran saya langsung teringat dengan salah satu materi pada kegiatan Gugus Kendali Mutu (GKM) yang rutin diadakan kantor. Kegiatan tersebut menjadi wadah untuk bertukar informasi dan pikiran terkait tugas pokok dan fungsi KPPN sebagai Kuasa Bendahara Umum Negara.

Materi tersebut tentang sosialisasi Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (SPAN). Sebuah sistem yang dibangun berbasis teknologi informasi yang ditujukan untuk mendukung pencapaian prinsip-prinsip pengelolaan Anggaran. Tentang siapa, apa, dimana, kapan dan bagaimana SPAN itu akan saya rangkum dalam kesempatan mendatang. Disini saya tak hendak membahas tentang SPAN tetapi tentang penggunaan bahasa di dalam modul SPAN yang ingin saya kritisi.❗

Dari beberapa kali materi GKM yang dibawakan oleh Duta SPAN Unit (DSU), begitu banyak kosa kata dalam bahasa Inggris yang digunakan untuk presentasi. Sebagai contoh pada materi dengan judul: Modul Komitmen Manajemen Kontrak, terdapat banyak sekali bahasa Inggris yang dicampur adukkan (seperti gado-gado) dengan bahasa Indonesia semisal: Request for Commitment (RFC), Spending Unit, uncommitted budget balance dan encumbrance. Saya, sebagai peserta terus terang cukup terganggu dengan penggunaan istilah asing yang menurut pendapat saya cukup berlebihan.😑

Mencampur adukkan penggunaan bahasa Indonesia dengan bahasa Inggris dalam percakapan sehari-hari ataupun dalam forum-forum diskusi memang terlihat elegan dan terkesan intelek. Tetapi jika hal tersebut lantas menjadi sebuah kebiasaan jujur saya tidak begitu setuju. Bahasa kita adalah bahasa Indonesia dan kita harus bangga untuk itu. Tengoklah bagaimana beratnya perjuangan para pahlawan kita demi mengenyahkan para penjajah dari bumi pertiwi dan kemudian berikrar untuk bersatu, satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa.

  1. Pertama: Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

  2. Kedoea: Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

  3. Ketiga: Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Kutipan diatas adalah teks Sumpah Pemuda yang diikrarkan di Jakarta pada tanggal 28 Oktober 1928. Sejalan dengan itu pemerintah juga telah menerbitkan Undang-undang nomor 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara, Serta Lagu Kebangsaan. Pada bab III tentang Bahasa Negara, telah diatur dengan jelas bagaimana memposisikan bahasa Indonesia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. *uhuk-uhuk*

Pasal 30: Bahasa Indonesia wajib digunakan dalam pelayanan administrasi publik di instansi pemerintahan

Bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu bangsa. Dengan bahasa Indonesia dapat terjalin komunikasi yang baik antar suku yang memiliki bahasa lokal yang berbeda-beda. Dengan bahasa Indonesia ego kesukuan dapat dilebur menjadi satu rasa nasionalisme. Berbahasa asing dengan baik dan benar tentu sah-sah saja sepanjang berada dalam forum yang tepat atau dengan lawan bicara yang memang benar-benar tidak memahami bahasa Indonesia.

Intelektualitas seseorang tidak diukur dari seberapa panjang gelar akademis yang dimilikinya dan seberapa fasih dia berbahasa asing melainkan dari seberapa mampu ia mengamalkan ilmunya dan seberapa besar ia membawa manfaat bagi lingkungannya.

Khoirukum Anfauhum Linnas

Sebaik-baik kalian adalah yang bermanfaat bagi orang lain (HR. Bukhari dan Muslim).

Salam.