Tags

,


Ketika harga minyak dunia sedang bergolak, pemerintah bingung untuk bertindak. Opsi menaikkan BBM jelas adalah pilihan yang paling gampang, tapi rakyat tentu saja tak akan senang. Demo menolak kenaikan BBM menjadi headline seluruh media masa, gedung Dewan dan Istana menjadi sasaran utama unjuk rasa. Hingga akhirnya suara rakyat yang menang, harga baru kenaikan BBM urung dipasang.

Lantas Opsi penghematan energi diapungkan, Presiden lantang menginstruksikan. Pukul 6 Sore semua gedung pemerintah harus padam, tak boleh lagi ada aktivitas di dalam.  Kendaraan dinas juga harus memakai pertamax, premium tak diijinkan lagi untuk ditenggak. Penghematan APBN juga dilakukan dengan memangkas anggaran belanja semua Kementerian.

Selesaikah permasalahan? Tentu saja belum karena sama sekali tidak menyentuh pokok persoalan. Dari porsi APBN jelas terlihat, keuangan negara dialokasikan secara tidak sehat. Belanja yang sifatnya konsumtif mendapatkan porsi yang jauh lebih besar ketimbang belanja yang produktif. Alasannya klasik, pemerintah masih harus menanggung subsidi BBM yang cukup besar hingga tak dapat berkutik.

Beban belanja pegawai yang terlampau tinggi itulah sebenarnya yang harus dikurangi. Semua sumber daya alam  serta cabang-cabang produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak harus segera dikembalikan kepada khalayak. Jangan biarkan tangan-tangan asing yang berkuasa karena diri sendirilah yang akan tersiksa. Jika pondasi ekonomi telah kuat, harga minyak naik berlipat bukan lagi kiamat. Tidak seperti  sekarang, untuk hiduppun terpaksa mengandalkan hutang.😦

Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya

Perlukah merekrut begitu banyak Pegawai Negeri Sipil sementara mereka banyak yang tidak peduli dengan rakyat kecil? Perlukah memberikan fasilitas yang mewah kepada pejabat negara sementara rakyat masih banyak yang hidup sengsara? Perlukah menggelar meeting di hotel-hotel berbintang sementara ruang di dalam kantor sendiri masih banyak yang lapang? Perlukah studi banding keluar negeri sementara teknologi mampu menyulap jarak hanya dengan ketukan jari? Perlukah membeli barang dari luar dengan harga yang cukup mahal sementara yang lokalpun tak kalah handal?

Anjing menggonggong kafilah tetap berlalu.:mrgreen: