Tags

,


Meskipun saya orang Jawa, tapi saya begitu mengagumi budaya Minangkabau. Jika Anda bertanya mengapa dan sejak kapan saya mengagumi budaya Minang? Saya sendiri tidak tahu jawabannya๐Ÿ˜€ Kekaguman itu semakin menjadi ketika saya berhasil mendaratkan kaki saya untuk pertama kalinya di Padang pada bulan November 2011.

Waktu itu sedang ada promo dari Garuda Indonesia dan iseng jemari saya mencari jadwal penerbangan ke Padang, voila saya mendapatkan tiket murah untuk penerbangan return seharga Rp 900.000,- an.๐Ÿ˜€ Bulan November sengaja saya pilih untuk menyegarkan pikiran sebelum digempur SPM di bulan Desember. Sebenarnya trip ini saya rencanakan sendiri, menjadi single backpacker seperti biasanya. Namun ketika saya ceritakan kepada teman saya mba Ria, dia jadi antusias untuk bergabung dalam perjalanan ini. Jadilah perjalanan saya ke Minang ditemani mba Ria dan suaminya, mas Dar.

Tidak banyak persiapan yang saya lakukan, karena saya suka yang simple dan ga pake ribet. Penerbangan kami ke Bandara Internasional Minang (BIM) dijadwalkan pagi. Dari proses check in sampai tiba di BIM semua berjalan lancar. Cuaca juga cukup bersahabat dan inflight service dari Garuda benar-benar memuaskan. Amat pantas memang maskapai ini dilabeli bintang empat dan berdiri sejajar bersama 32 maskapai lainnya seperti Air France-Perancis, Japan Airlines-Jepang, Dragonair-Hongkong, Qantas-Australia, dan Korean Air– Korea.๐Ÿ˜Ž

Tiba di Padang kami langsung meluncur ke Bukit Tinggi. Dalam perjalanan mata kami dimanjakan oleh hamparan sawah yang menghijau dan rumah-rumah Bagonjong yang terselip diantara rumah-rumah modern. “Subhanallah,ย inilah Minang! yang sedari dulu hanya sanggup aku mimpikan”, gumam saya dalam hati. Hujan datang menyambut ketika mobil kami memasuki lembah Anai. Mobil kami sedikit melambat untuk sekedar mengabadikan air terjun yang benar-benar nangkring dipinggir jalan, air terjun Lembah Anai.:mrgreen: Ya, air terjun di Sumatera Barat yang saya temui semuanya bersahabat, berbeda sekali dengan air terjun di Jawa seperti Curug-curug di kawasan puncak atau air terjun Sumber Jambe di Jember. Semuanya harus dilalui dengan jalan yang mendaki, berbatu dan cukup menguras tenaga.

Melewati Padang Panjang, pak Anwar sopir yang mengantar kami, sudah kami instruksikan untuk singgah sejenak di rumah makan legendaris disana, apalagi kalau bukan Sate Mak Syukur. Rasa satenya benar-benar mantap dan bumbunya juga cukup bersahabat dengan lidah saya. Sebelum-sebelumnya saya tidak begitu tertarik mencicipi sate Padang apalagi melihat sausnya yang kental kekuningan, tapi di Mak Syukur lain cerita.๐Ÿ˜€

Padang – Bukit Tinggi jika jalanan lancar dapat ditempuh dalam waktu dua jam. Menjelang Dhuhur kami telah tiba di Bukit Tinggi, dan penginapan yang menjadi tempat tinggal kami selama bermukim disana adalah Singgalang Indah Hotel. Hotel kelas melati yang harganya cukup ramah bagi para budget traveller.๐Ÿ™‚ Hotel ini letaknya cukup strategis, berada di kawasan “Jl. Jaksa” nya Bukit Tinggi yaitu Jl. Ahmad Yani. Untuk ke Jam Gadang cukup 10 menit jalan kaki. Siang itu kami tidak mau membuang waktu, sahabat saya yang bertugas di KPPN Bukit Tinggi mas Tomo, dengan senang hati menjadi guide dadakan yang membawa kami kedalam petualangan sedikit “gila” selama tiga hari disana.:mrgreen:

Berempat kami menuju Danau Maninjau dengan melajukan dua motor (satu motor adalah sewaan). Danau Maninjau adalah danau yang terbentuk akibat letusan gunung vulkanik, terletak di Kecamatan Tanjung Raya Kabupaten Agam. Jalan menuju Danau Maninaju cukup menantang, karena disini kami harus melewati “Kelok 44” atau dalam bahasa Minang Kelok Ampek Puluah Ampek dengan tikungan yang cukup tajam dan jalan yang tidak terlalu lebar. Alhasil jika ada kendaraan roda empat yang berselisih jalan, kendaraan yang hendak turun harus mengalah dan memberikan jalan buat kendaraan yang akan mendaki. Cool, baru kali ini saya disuguhi kelokan yang sangat panjang dan cukup ekstrim.

Sampai di Maninjau hari menjelang senja, selepas sholat Ashar di masjid tua yang agak spooky kami duduk ditepian danau dan memanjakan mata dengan view danau maninjau yang mulai berkabut. Sebelumnya kami juga sempat menikmati danau Maninjau dari Puncak Lawang. Dari atas danau Maninjau sempat terhijab oleh kabut๐Ÿ˜ฆ, namun tak lama kemudian kabut tersebut perlahan menghilang untuk mempersilahkan mata kami menikmati keindahannya dengan bebas, masyaallah.๐Ÿ˜€

Petualangan kami hari itu belum berakhir karena kami masih harus mendaki kelok 44 dalam dingin dan gelapnya malam, what a crazy night! Saya katakan gila karena ini adalah pengalaman pertama mas Tomo membawa kami kesana dan sepeda motor sewaan kami kondisinya tidak cukup prima untuk dibawa jauh. Syukur Alhamdulillah perjalanan kami kembali ke Bukit Tinggi lancar dan terbilang cukup cepat dibanding waktu kami menuruni kelok 44 (durasi waktunya saya lupa). Bayangkan saudara-saudara, waktu menanjak lebih cepat dibanding waktu menurun.๐Ÿ˜ฏ

Kami menghabiskan malam di Bukit Tinggi dengan menikmati susu jahe sembari mengenang kembali perjalanan gila kami.๐Ÿ˜† Setelah membuat janji untuk petualangan esok harinya, kami kembali ke hotel dan tepar dengan sukses. Hari kedua, kami berangkat agak pagi karena rute yang akan ditempuh lumayan jauh. Istana Basa Pagaruyung di Kabupaten Batu Sangkar menjadi spot pertama kami dan kemudian dilanjutkan ke Lembah Harau di Kabupaten Lima Puluh Kota.

Cuaca hari itu terbilang sangat bersahabat. Mentari tersenyum cerah menemani perjalanan kami. Istana Basa yang menjadi ikon pariwisata Sumaera Barat pada kunjungan kami saat itu sedang direnovasi akibat kebakaran. Puas narsis di Istano Baso, perjalanan kami lanjutkan ke Kabupaten Lima Puluh Kota. Spot kedua adalah lembah Harau. Lembah indah nan memikat yang dilingkupi perbukitan dengan batu-batu terjal yang cukup gagah, supercool! Disini juga sama dengan lembah Anai, nangkring lima air terjun ditepi jalan yang cukup cantik. Diantaranya adalah Sarasah Murai dan Sarasah Bunta. Ada cerita menarik tentang legenda lembah Harau, untuk lebih jelasnya silahkan dibaca disini.

Sarasah artinya sama dengan curug atau air terjun.

Puas bernarsis ria di Sarasah Bunta dan Sarasah Murai, kami lanjutkan perjalanan kembali ke Bukit Tinggi. Dalam perjalanan pulang ini, roda motor sewaan kami bocor dan harus ganti ban. Akhirnya kekhawatiran kami terjadi juga๐Ÿ˜ก apa boleh buat kami harus mengganti ban dan menunggu cukup lama. Sembari menunggu kami singgah di rumah makan yang menyajikan “sebenar” rendang dari Minang. Kenapa saya sebut “sebenar” ya karena rasanya benar-benar otentik. Mirip dengan rasa rendang yang dibawakan oleh uda Nofa, salah satu kawan kantor setiap beliau pulang kampung ke Solok. Aroma wangi kelapa benar-benar tercium dan racikan bumbunya juga pas. Dipadu dengan nasi hangat, lengkap sudah acara makan siang kami menjadi sangat nikmat.๐Ÿ˜€

Selesai makan dan mengganti ban kami lanjutkan perjalanan ke Bukit Tinggi. Jika pagi hingga siang cuaca masih bersahabat, menjelang senja hujan turun cukup lebat. Sampai di Bukit Tinggi kami singgah sebentar membeli oleh-oleh dan kembali ke hotel. Esok harinya, sembari menunggu jemputan kami sempatkan jalan-jalan di Benteng Fort de Kock dan numpang narsis di depan Ngarai Sihanok. Yup, Jam Gadang, Benteng Fort de Kock, Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan serta Ngarai Sihanok adalah obyek wisata yang berada di dalam kota Bukit Tinggi. Sekali mengayuh dua tiga pulau terlampaui.

Antara Benteng Fort de Kock dan Taman Marga Satwa dihubungkan oleh Jembatan Limpapeh, jembatan ini mempunyai ukiran yang cukup indah di pintu masuknya. Di Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan terdapat miniatur rumah gadang yang dikelola oleh Pemerintah Bukit Tinggi. Puas menikmati benteng dan kebun binatang kami kembali ke hotel untuk berkemas dan mengakhiri petualangan kami yang cukup singkat di Bukit Tinggi.

Hari itu kami harus kembali ke Padang. Mba Ria dan suaminya akan kembali ke Jakarta sore harinya, sementara saya masih menyisakan sehari lagi. Saya sebenarnya punya keinginan untuk menyusuri Pesisir Selatan yang konon panorama pantainya cukup elok. Tapi sayang bencana banjir yang menimpa kabupaten tersebut saat itu, mengurungkan niat saya untuk kesana.๐Ÿ˜ฆ

Penginapan saya selama di Padang letaknya juga cukup strategis karena berdekatan dengan Pantai Padang. Cukup lima menit jalan kaki sampailah saya di bibir pantai. Sore itu saya habiskan dengan menikmati senja dan berwisata kuliner disalah satu rumah makan pinggir pantai. Menikmati ikan bakar sambil memandangi kelap-kelip lampu nelayan jadi mengingatkan saya dengan suasana Nabire. Salah satu kota kecil di Teluk Cenderawasih tempat saya pertama kali bertapa dulu๐Ÿ˜€

Keesokan harinya saya sempatkan singgah di Jembatan Siti Nurbaya dan mencari oleh-oleh di Toko Christine Hakim (bukan nama artis). Pusat oleh-oleh yang cukup terkenal di Kota Padang. Ada beragam cemilan dan masakan jadi yang bisa Anda bungkus disini. Selain itu ada juga kaos khas Minang dengan berbagai gambar seperti rumah gadang, jam gadang atau sikerei dukun orang-orang Mentawai.

Demikianlah ulasan singkat saya tentang Minangkabau, masih banyak obyek wisata yang belum saya kunjungi seperti Danau Singkarak, Danau Kembar dan Pesisir Selatan. Dan itu cukup menjadi magnet buat saya agar kembali lagi ke ranah Minang.๐Ÿ˜€ Diakhir tulisan ini saya ingin membagikan satu petatah petitih Minang yang saya ingat sampai sekarang. Tulisan ini saya baca di sudut-sudut jalan Bukit Tinggi – Payakumbuh. Tulisan yang sederhana namun sarat makna, begini bunyinya:

Adat basandi sarak, sarak basandi kitabullah

Yang jika diartikan kurang lebihnya adalah: Setiap norma atau adat istiadat yang berlaku dimasyarakat landasannya adalah syariat (tuntunan agama) dan syariat ruhnya adalah Al Qur’an. Begitulah sejatinya seorang muslim dalam menjalani hidup agar ridho Allah dapat digapai dan selamat dunia akhirat.

Salam.